Jumat, 08 Oktober 2010

Surat Yang Tak Pernah Terkirim Sebelumnya

Bila boleh menulis surat sekali saja; sudah kusiapkan banyak kata, banyak waktu, dan pasti bayak sekali keinginan. Namun bisa kupastikan aku akan menulis surat hanya sedikit lebih panjang dari alamat kemana surat akan kutujukan, bahkan bila alamatnya ditulis dengan lengkap, isi suratnya lebih pendek dari alamat itu. Banyak sekali yang ingin kusampaikan, banyak khayalan yang seolah akan mejadi nyata setelah aku ada disana, dan ingin sekali kutulis surat untuk itu. Serasa waktu akan segera habis, serasa kata-kata yang akan kutulis sudah sampai ke alamatnya. Dan sampai sekarang, tentulah balasan tidak ada secara tertulis, karena aku tidak pernah menulisnya. Aku hanya merasa telah mengirimkanya, dengan hati dan pikiranku setiap malam dan setiap pagi, karena pikiran beserta energinya tidak dapat dihalangi oleh ruang dan waktu. Tidak ada tanda-tanda surat itu akan mulai kutulis, tidak ada tanda-tanda bahwa pesan-pesanku sudah sampai walau tanpa surat. Bagaimana mungkin bisa menulis surat, bila air mata mengalir deras. Bukankah kertas-kertas akan basah, tulisan-tulisan akan sulit dibaca, dan kalaupun suratnya kukirimkan sepertinya saya tidak sopan, mengirim surat dengan tinta yang tidak karu-karuan karena basah. Setiap hari, dua kali sehari; kupelajari bagaimana orang-orang mandul bisa hamil dan melahirkan orang-orang besar dan penuh berkat ; ingat saja Ishak, Yakub, Samuel. Dan selalu kukenang kisah-kisahnya, ingin sekali kutulis surat, namun tidak sempat lagi. Karena hari ini Jumat 8 October 2010, Kakaku yang banyak berkorban untukku,anak-anakku, keluargaku, telah dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Ketika dia berkata "aku sudah siap" dipanggil Tuhan, dan "sudah capek dengan perawatan Rumah Sakit", banyak surat yang ingin kutulis dan kukirimkan, tapi tak satu kata pun sempat kutulis, sampai malam ini sudah pukul 11.30 PM Timor Leste. Dan sekarang juga sudah ada balasan surat yang pernah kutulis itu " Karena Tuhan yang berkuasa atas kehidupan dan kematian, pun seisi langit dan bumi " dan ingin lagi kutlis surat " Selamat Jalan Kakakku Mahdalena Saragih". Minggu 10/10/2010 engkau akan berdiam di peristirahatanmu sementara, di belakang rumah kita di kampung. Tempat kita dibesarkan, dan pasti kita semua juga akan seperti itu, sampai Tuhan datang. Dan Kutulis semua ini untukmu karena aku tidak bisa ada disana, walau hanya sekedar melihat tubuhmu yang sudah kaku. Ingin sekalu ku ikut mengangkat peti yang banyak ukirannya sebagai rumah barumu, ingin sekalu melihat begitu banyak orang mengasihi kita, dan melepasmu pergi selamanya. Surat ini kutulis dari tempat yang jauh sekali, jauh sekali dari kampung kita, hingga aku tidak bisa hadir. Kutulis lagi surat ini sekaligus untuk kau bawa "Tuhan..kakakku ini lebih banyak menderita semasa hidupnya, dan berilah kesenangan di sisiMu, sungguh kami lebih mengerti kebesaran Tuhan setelah dia pergi selama-lamanya.

Jumat, 24 September 2010

Lama atau Sebentar

Entah bagaimana tanggal lahir kami bisa sama,persis. Sama-sama tanggal 27 Desember, berbeda satu tahun. Itu artinya pada saat dia berumur 3 bulan mama sudah hamil lagi, mengandung aku. Dan pada saat aku lahir sebagai anak laki-laki pertama setelah dua kakakku perempuan, pastilah keluarga sangat bangga sekali sebagaimana layaknya keluarga batak. Sepertinya menjadi hal biasa, bila kakakku Lena Saragih yang saat itu harusnya mendapat ucapan selamat ulang tahun I tidak mendapat perhatian lagi,karena semua perhatian keluarga besar tertuju padaku, yang dianggap penerus marga. Tidak ada kesalahan disana, karena keadaan itu sudah dimaklumkan hampir semua penduduk desa dan mungkin orang kebanyakan. Dan kami tumbuh bersama di desa bersama kakak tertua dan 2 adikku, 1 perempuan dan 1 laki-laki. Kami bersekolah dengan kakakku Lena ditempat yang sama di SD negeri 091721. Saya jauhlebih cepat bisa membaca dari pada dia walau kelas nya sudah satu tingkat diatasku. Dia belum bisa membaca saat aku masuk kelas satu dan sudah tau membaca. Demikian juga sampai SMP dan SMA, kami bersekolah ditempat yang sama, keadaannya. Dan dapat diguga mungkin pada saat bayi dan masa balita aku mendapat lebih banyak perhatian dari pada kakaku. Lalu berikutnya, dia hanya tinggal di rumah kaka tertua saya dan saya, untuk membantu kami mengurus anak-anak, karena sulit bagi dia mendapat pekerjaan. Dan pada tahun 1991, ketika dia menjaga anak-anak kakaku di Pematang siantar, tulang pangkal pahanya reak, kerena mungkin rapuh dan tidak kuat menopang tubuhnya dari posisi jongkok ke berdiri sehabis menyetrika. Saya waktu itu sudah bekerja sebagai Med.Rep dan tinggal dirumah kakak juga. Waktu mau di bawa berobat, dia sangat kesakitan dan menagis, saya sampai hampir pingsan merasakan sakitnya dan untung masih sempat ketempat duduk dan berbaring ketika merasa oyong. Saya tidak melihat bagaimana ia dinaikkan ke mobil, karena saya oyong. Dan beberapa tahun dia tinggal dirumah mengurus dan mengajari anak-anak kami di Medan, hingga anakku Fika bisa membaca pada usia 3 tahun. Dan mengurus dengan telaten anak kami Cici yang mendapat pengobatan 3 tahun, dan menjaga anak kami Ganesta yang permintaannya banyak sekali. hamipr dua tahun belakangn, dia sudah mulai merasa gembira, sudah punya usaha berjualan pulsa,sudah punya yamaha Mio, dan sudah bisa memberi uang ke orangtua,ke geraja dan ke anak-anak kami. Tuhan mempunyai jalan sendiri bagi kehidupan manusia, setelah merasa nyaman dengan usasa keccil-kecilannya yang dengan susah kami bangun bersama, 7 bulan terakhir dia merasa sakit kepala, seperti sakit kepala biasa. Tapi terkadang semakin lama terasa semakin sakit, sampai muntah dan dia menangis menahan nyeri. Kami bawa scanning tidak kelihatan gangguan di otaknya. Keadaan memburuk karena perasaan seolah-olah penyakit ini brhubungan dengan magic, disitulah saya marah sekali, dan rupanya marah saya tidak membantu, saya menyesal sekali. Dan orang tua memutuskan membawa kekampung dengan alasan disini tidak ditemukan penyakitnya, kamipun tidak tau membawanya kemana, karena kami masih menunggu perkembangan dan akan memeriksakan kembali. Setelah di kampung,pengobatan dukun yang menghancurkan itu dijalani sekitar 4 bulan, dan itu menghancurkan semuanya, kepercayaan antar keluarga, kepercayaan kepada terapi kesehatan, terutama kepercayaan akan kekuatan Tuhan jatuh ke titik terendah pada seluruh keluarga kami, kecuali keluarga saya dan adikku yang bungsu karna dia juga penginjil. Entah mengapa tulang giginya bengkak dan semakin besar dan semakin besar, dan pengobatan dukun itu mungkin memperparah keadaan. Terakir tulang gigi itu sudah busuk dan keluar nanah dari rahang bawab, dan wajahnya bengkak sekali. Selalu terjadi pertengkaran keluarga terutama dengan bapakku ketiaka ada rencana dibawa ke Rumah Sakit. Dukun itu merusak semuanya. Tetapi karena sudah sangat tidak tega melihatnya, saya ultimatum orang tua supaya membawa ke Rumah Sakit atau tidak mengurusnya lagi, dan mulailah pengobatan Rumah Sakit. Pemeriksaan demi pemeriksaan dijalani dengan berbagai situasi yang tidak begitu baik, karena dia begitu takut dengan pemeriksaan Rumah Sakit, kami gagal meyakinkan bahwa Dukun itu telah merusak kita dan sekarang kita ada di tempat pengobatan yang benar, walaupun saya adalah seorang trainer. Direncanakan untuk membersihkan tulang gigi yang infeksi, tapi ternyata semua sudah busuk dan rapuh, sehingga rahang kanannya harus dipotong separuh, dan direncanakan dipasang plat 6 bulan kemudian. Tetapi keadaan cepat sekali berjalan, kejang teras datang seara berkala, Ephorus GKPS Pdt Jaharianson (Jaka) sudah membimbing dan memutus hubungan dengan dukun sesat itu, dan sekarang dengan diagnosa brain cancer, kakakku Lena Saragih tidak lagi bisa berjalan, sulit makan-minum dan bicara..dan dari rumah kami jl bunga ncole XIVA no 76 akan berangkat pagi ini ke Negeri dolok, kampung kami, kerumah orang tua dengan mobil lae bpk Gerald (anak amboru). Saya tidak bisa berada disisinya walau sekedar berdoa dan mengatakan..semangat ya..semangat..masih bisa berubah...dan mengantarnya ke kampung sesuai permintaannya karena saya sedang di Dili Timor Leste. Hanya 50an hari lagi aku akan pulang ke Medan, dan permohonanku " ya Tuhan sepertinya baru kemarin kami sama-sama di SD,SMP dan SMA, sepertinya baru kemarin dia mengurus anak-anak ku hingga sekarang Fika sudah SMA, ya Tuhan sepertinya baru kemarin dia mulai berbahagia dengan Mio nya untuk berjualan pulsa, Ya Tuhan sepertinya baru sebentar dia mempunyai uang dari hasil kerja kerasnya 12 jam sehari menanti pembeli pulsa, Ya Tuhan sepertinya baru kemarin dia merasa sakit kepala biasa dan masih bisa bermain-main dengan Ganesta, Dan Tuhan bila engkau izinkan 52 hari lagi aku akan bertemu dengannya dengan senyuman, dan ingin kuceritakan hal besar kepadanya. Tanpa dia ada, tidak tahu bagaimana kehidupan anak-anakku dimasa kecilnya, Ya Tuhan cepat atau lambat semua orang akan menghadap Enkau, hanya sedikit waktu untuk bersama di dunia, tetapi banyak kesempatan untuk mendapat kesenangan di sisi Tuhan (Haleluya 251). Terimakasih Tuhan, hidup lama atau sebentar disisi Tuhan adalah kesenangan, walaupun dengan air mata, terpujilah Tuhan tidak sebentar, tapi selama-lamanya. Amen

Anakku malaikat penolongku

Menjadi konsultan di organisasi dunia bagiku sangatlah terlalu tinggi. Hanya sebagai seorang trainer dan tidak fokus pada satu bidang di kesehatan, bagaimana mungkin saya bisa ada ditengah-tengah orang dari seluruh penjuru dunia dan menjadi konsultan bagi kegiatan tertentu, walaupun hanya jangka pendek. Dalam waktu yang pendek itu pula kehidupan yang harus berpisah dengan keluarga ; istri dan 3 anak, terlebih kakak ku Lena Saragih yang sedang sakit berat (brain cancer). Beban tugas yang begitu berat, selalu dikejar waktu, karena berhubungan dengan berbagai organisasi internasional, dan saling terkait satu sama lain. Integritas profesionallku tidak boleh turun tetapi sulit sekali membagi otak untuk pekerjaan, dan emphaty dalam penderitaan kakakku Lena Saragih, yang rasanya memasuki hari-hari terakhirnya menghadap penciptanya. Dan aku tidak bisa berdiri disana, hanya sekedar mengatakan...tetaplah semangat..akan ada perubahan...pikirkan saja bernafas yang panjang..lupakan sakitnya..dan lainnya. Walau terkadang aku marah sekali dalam keadaan dia tidak berusaha untuk bersemangat..tapi sekarang aku pahami betul, otaknya tidak mampu lagi mengatur semuanya..semua fungsi pasti sudah sangat kacau. Belum pernah aku aku berdoa setiap hari sambil menangis, supaya bila Tuhan berkehendak, beri dia ketenangan sebentar saja dan menunggu saya pulang, tidak lama. Karena pikiran kacau, pekerjaan saya yang menggunakan formula beberapa kali salah dan syukur sekali Tuhan beri saya Supervisor yang mengerti keadaan pikiran saya. Lalu tuhan beri saya anak-anak yang seperti punya sayap dan terbang disisi kanan dan kiri..Tuhan beri aku anak yang pintar sekali, melampaui apa yang kuketahui. Fika anakku yang paling besar, menulis di pesan skype " buka boardofwisdom.com pak!, tapi pertama saya abaikan, dan sepertinya dia tau saya benar-benar merasa sangat susah saat ini. Lalu dia pesanlagi "pak buka boardof wisdom.com" lalu saya buka pagi-pagi sekali, dan lebih banyak lagi air mata saya keluar, seteah Fika ingatkan ingatkan kedua kali, saya mulai semangat, banyak sekali tulisan-tulisan yang membuat aliran darah saya mengalir lebih kenccang. Terimakasih Tuhan beri aku malaikat penolong, saya bisa menangis adalah bukti kelenjar air mata saya normal, saya bisa bersedih adalah bukti tubuh saya masih berfungsi, saya mendengar anak-anak ribut adalah bukti telinga saya masih mendengar, saya mendengar anak saya mengeluh karena sulit bepergian karena saya tidak dirumah adalah bukti anak saya berpikir normal dan sedang tumbuh dewasa, saya terkadang berbeda pendapat dengan istri adalah bukti kami masih mampu memberi pandangan, kadang tidak ada selera makan walau duit cukup adalah bukti antara otak dan pencernaan saya masih berfungsi normal, ketakutan adalah bukti fungsi alarm otak masih bagus, ada jauh sekali dari keluarga saat ini adalah bukti banyak orang yang membutuhkan kemampuan saya, ingin cepat pulang melihat kakakku Lena Saragih adalah bukti kami benar-benar saudara kandung, marah karena orangtua percaya pengobatan dukun adalah bukti saya merasakan hanya kekuatah Tuhan yang paling tinggi dri yang ada, penyakit yang tak tersembuhkan oleh dokter terpintar sekalipun adalah bukti jalan Tuhan bukan jalan manusia dan pikiranNya bukan pikiran kita..dan malaikatku ada di rumahku, permainan biola nya yang kasar terasa seperti orkestra, dan biramanya yang kacau menjadi seperti gubahan komponis besar, gesekan yang tidak bersih bagaikan suara dalam keheningan, dan tulang belakangnya yang kurang normal adalah pemberat bagi kami, ibarat sebuah perahu yang punya beban dan sebagian badannya tenggelam, akan lebih stabil dibanding perahu kosong. Hidup selalu berada disisi malaikat, dan malaikat selalu ada di sisi kita, dekat sekali, dirumah kita..dan Tuhan..berkati kami.Amin

Doa dan Harapan untuk Magdalena Saragih (By Jannerson Girsang, Pengantar Jemaat GKPS Simalingkar)

Doa dan Harapan untuk Magdalena Saragih.

Di saat kita kebingunan dan tidak paham rencana Tuhan atas seorang anggota keluarga, tindakan yang terbaik dilakukan adalah berseru kepadaNya. Itulah yang dilakukan keluarga Magdalena br Saragih, sore hari JUmar 24 Oktober 2010..

Itu juga yang saya sampaikan untuk menguatkan keluarga ini ketika membuka acara. Saya mengutip Yeremia 33:3. ”Berserulah kepadaKu, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu, sesuatu yang besar dan yang tak terpahami, yakni hal-hal yang tdak kauketahui”.

Kami tiba di rumah Sy Jandes Saragih, adik kandung Magdalena, yang terletak di bilangan Bung Ncole, sore hari sekitar pukul 14.00. Cuaca begitu cerah, secarah harapan yang asih tersisa. Berseru kepada Tuhan!.

Saat saya masuk ke rumah melalui pintu garasi, Lena duduk di atas tempat tidur, menyandar ke dinding dialas dengan bantal. Wajahnya tampak lesu dan bicaranya kurang jelas, meski masih dapat kumengerti.

Dia menyambut semua tamu dengan semangat yang optimis. ”Terima kasih, terima kasih”, atau sekali-sekali dia hanya menundukkan kepalanya tanpa bicara, karena memang dia sulit berbicara akibat operasi di rahangnya beberapa waktu lalu.

Ketika kami tiba, beberapa anggota keluarga sudah lebih dulu hadir, termasuk dua mangkela Sy Jandes. Mama Vika keluar sebentar untuk mengurusi konsumsi. Luar biasa!. Meski lae Jandes tidak berada di tempat semuanya berjalan dengan lancar. Ibu rumah tangga yang bertanggungjawab. Ibu-ibu GKPS harus belajar banyak dari besan ini.

Sebelum acara dimulai kami berdiskusi dengan pendeta dan keluarga di ruang depan dekat kolam ikan yang menyejukkan. Dengan hidangan sirup dingin dan roti bolu yang dipotong-potong, kami menysun acara yang disepakati, termasuk tidak menangis di depan Lena.

Syukur, hari ini Lena mendapat HBN, yang dimulai pukul 14.45. Sekitar 15 orang dari Huria GKPS Simalingkar, termasuk sebagian besar guru Sekolah Minggu dan Pengurus. Padahal, kami tidak mengudang resmi. Hanya dari mulut ke mulut. Bukti bahwa Lena ada di hati jemaat dan teman-temannya sesama Guru Sekolah Minggu.

HBN dipimpin Pendeta Rasmidin Sinaga STh.

Lena menerima HBN dengan sungguh-sungguh. Dia duduk diapit ibu dan ayahnya. Para anggota jemaat dan keluarga yang berjumlah Kira-kira 25-30 orang sebagian duduk bersila di atas tikat dekat tempat tidur, sebagian berdiri.

Guru Sekolah Minggu GKPS Simalingkar itu dengan iman yang bulat mengikuti seluruh alur acara. Dia mampu mengucapkan semua kata-kata yang wajib diucapkannya.

Dia mengucapkan dengan lancar ketika pendeta menyodorkan Psalmen 119:41. Sambil dibacakan terlebih dahulu oleh pendeta, dia mengikuti ucapan pendeta. ”Sai soopma bangku idop ni uhurMU, Ale Jahowa, sonai hatuahonMu, romban hubani bagah-bagahMu”. Ayat ini diucapkannya dengan lancar, sebelum Pendeta melakukan acara HBN.

Saat Lena harus mengunyah roti yang disuguhkan pendeta, dia tampak dia kesulitan mengunyahnya dan hanya mampu memakan separuhnya. Tetapi dia tampak puas. Kemudian dia minum anggur satu sendok makan. Dia menelan dengan dibantu ibunya supaya anggurnya tidak meleleh dari bibirnya.

Sepanjang acara, mata Lena terlihat sayu. Sekali-sekali dia menggerak-gerakkan kakinya. Kadang ibunya mengurut kepalanya. Ibunya kelihatan pasrah dan mengikuti acara HBN. Kesedihan memang tak bisa tertutupi. Saat bernyanyi mata ibunya terlihat memerah, walau tidak menitikkan air mata. Ayahnya yang berdiri di sebelahnya serius mengamati pendeta yang memimpin acara itu.

Semua anggota jemaat yang hadir dan keluarga mengikuti acara HBN, semua mendapat roti dan anggur. Acara yang juga turut mendorong semua jemaat dan keluarga untuk turut memberi semangat dan menguatkan iman percaya perempuan yang telah mengajar banyak anak-anak jemaat ini.

Usai HBN, keluarga dan jemaat menikmati makanan dan minuman yang disediakan jemaat. Kami meninggalkan Lena yang terbaring menyerahkan kesembuhannya kepada Tuhan, sekitar pukul 16.45. Wajah-wajah keluarga begitu cerah dan bersemangat mengucapkan terima kasih atas kehadiran jemaat dan keluarga.

Memang, tadi malam kami sedikit terkejut. Sebelum acara partonggoan Sektor III dimulai, besan mama Vika berbicara khusus memohon supaya Jumat diadakan HBN. Karena keluarga merencanakan membawanya ke kampung hari Sabtu.

Permohonan itu kami penuhi dengan menghubungi Pendeta Resort. Pendeta tidak ada masalah dan awalnya dia menetapkan jadwal jam 10.30, tetapi akhirnya disepakati jam 14.00. Semua dikoordinasikan dengan Pengurus Sektor dan Pimpinan Majelis.

Kiranya Tuhan memberkati Magdalena dan meyakinkanya bahwa Tuhan Yesus Kristus turut campur dalam apapaun yang terjadi pada dirinya. Semoga keluarga mendapat kekuatan untuk mendampingi Lena atas rencana Tuhan yang terbaik bagi Lena dan memberi penghuburan dan kekuatan bagi kami dan seluruh keluarga untuk mendampingi dan mengobatinya.

Amin. Salam dari kami semua buat lae kami yang berada di tempat yang jauh. .

Kamis, 23 September 2010

Tunjukkan 1 tanda saja

soon

Bila orang lain panen di ladang kita

coming soon

Kerja, makan dan Istrahat dengan hati

Coming soon

Bila kita Menjadi Tuhan 1 saat saat saja

Katakanlah ada pada satu saat manusia berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan dengan air mata dan jeritan hati, dan banyak diantaranya adalah orang-orang taat dan menjalankan kehendak Tuhan sepanjang hidupnya. Banyak diantara mereka adalah orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk kebaikan orang lain. Dan tentu saja mereka diberbagai tempat dengan keperluan dan keadaan yang berbeda-beda. Dan bila suatu saat Tuhan memberi kita kekuasaan untuk menjawab semua doa yang disampaikan, bagaimana kita akan melakukkannya. Misalnya seorang penjual bakso berdoa supaya cuaca mendung, agar banyak orang makan bakso, tetapi penjual es krim berdoa supaya hari panas, agar banyak orang membeli es krim. Lihat lagi pada saat ada perlombaan, termasuk di rumah ibadah, beberapa peserta berdoa menjadi yang terbaik dari peserta lainnya, tetapi yang juara hanya ada satu. Dan banyak lagi contoh lainnya. Kalaulah kita yang diberi waktu sesaat saja untuk berkuasa atas semua doa, kita akan menerima jutaan doa dalam waktu yang bersamaan, dengan permintaan yang mungkin berlawanan dan disampaikan dalam kondisi yang bermacam ragam. Tidak bisa dipikirkan apa yang akan kita lakukan, mungkin saja kita akan segera sakit kepala dan makan obat tidur, dan membeiarkan semua terjadi dengan sendirinya. Dan bila itu terjadi, bukankah akan terjadi kekacauan besar, bila begitu banyak mahluk dan benda-benda yang ada diluar angkasa akan saling bertubrukan, ada yang keluar orbit dan menabrak benda lainnya, dan bisa saja kehidupan akan berakhir saat itu juga. Lalu sesaat saya berpikir, kehidupan sekarang ini masih ada karena saya tidak menjadi Tuhan atas doa-doa yang saya sampaikan. Terimakasih Tuhan, Amen.

Sabtu, 18 September 2010

Eliminasi Tetanus neonatorum (bayi baru lahir)

Angka kematian 100%. Sungguh mengerikan, bila seorang bayi tidak punya kekebalan khusus terhadap tetanus dan terkena tetanus pada waktu persalinan atau perawatan tali pusat, maka angka statistik menunjukkan, bayi itu akan meinggal. Banyak pasangan usia subur (PUS) yang menantikan lahirnya si buah hati (baca : anak kandung) sampai bertahun-tahun, bahkan sampai berobat kemana-mana, sampai berobat ke dukun yang tidak punya anak. Sedemikian rindunya satu keluarga mempunyai anak. Sebegitu rindunya seorang wanita yang sudah menikah untuk merasakan betapa senangnya mengandung dan melahirkan anak sendiri, lalu merasakkan hangatnya bila si bayi kencing digendongan kita. Lalu kita akan mengajarnya tertawa, berdiri, berjalan, dan keluarga akan lebih berwarna dengannya. Clostridium tetani yang merupakan penyebab tetanus, teradpat dimana-mana disekitar kita, termasuk di tanah dan dialat-alat yang dipakai untuk bersalin dan merawat tali pusat bayi baru lahir. Bila bisa dijamin tidak ada clostridium tetani pada alat yang nanti akan bersentuhan dengan luka pada waktu persalinan dan perawatan tali pusat, memnang tetanus pada bayi dapat dihindari. Tetapi kenyataaannya, tidak ada yang bisa memastikan dimana dia akan melahirkan dan merawt tali pusat anaknya dan dengan alat yang seperti apa dan dengan petugas yang baimana. Oleh karena itulah pencegahan melalui imunisasi 5 (lima ) dosis pada wanita sangat perlu. Bila seorang wanita sudah mendapat 5 dosis, maka tidak perlu lagi ada vaksinasi tetanus pada saat dia hamil, dan bila pertolongan persalinan dilakukan dengan bersih, mudah-mudahan tidak terjadia tetanus pada bayi dan juga ibunya. Pemberian vakcinasi tetanus menggunakan vaksin tetanus toksoid 0,5 ml disuntikkan intramuskuler pada lengan atas, atau pada bayi diberikan di paha. Alat suntik yang dipakai adalah ADS yang akan rusak (macet) bila sudah dipakai satu kali, dan tidak bisa dipakai dua kali. Penyuntikan ini tidak menimbulkan efek samping yang berarti, hanya kadang terasa ada sedikit nyeri suntikan dan pegal pada daerah suntikan, dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Mendapatkan dosis lima kali dihitung sejak seseorang mendapat vaksin tetanus baik sendiri (vaksin TT) maupun vaksin kombinasi (DT, Td atau DPT). Perhitungan status TT1 - TT5 menggunakan jarak minimal dan tidak ada jarak maksimal. Bila jarak minimal tidak dipenuhi, maka status tidak berubah (meningkat) dan suntikan dianggap invalid. Dan itu tidak memberikan manfaat apa-apa, bahkan si penerima (ibu/wanita) hanya akan mendapat vaksin yang terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat. Oleh karena itu perhitungan jarak minimal perlu mendapat perhatian sebagai berikut :

TT1 ---> TT2 : minimal 4 minggu : artinya TT dua diberikan minimal 4 mgg setelah TT1
TT2 ---> TT3 : minimal 6 bulan
TT3 ---> TT4 : minimal 1 tahun
TT4 ---> TT5 : minimal 1 tahun

Dengan demikian, tidak perlu memberikan 2 suntikan pada setiap kehamilan, atau tidak memberikan suntikan sama sekali bila statusnya suda TT5.
Komunitas yang cakupan TT nya rendah, terutama TT2+ pada ibu hamil rendah dan masih rendahnya cakupan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (clean delivery) perlu dilakukan kegiatan akselerasi eliminasi tetanus neonatorum (ETN). Yaitu dengan memberikan suntikan massal pada wanita usia subur pada semua tatanan ( sekolah, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat ) dalam 3 putaran. Putaran ke dua dilakukan minimal 4 minggu dari putaran pertama, dan putaranketiga dilakukan minimal 6 bulan dari putaran ke 2. Dengan kegiatan ini diharapkan semua wanita usia subur sudah mempunyai status minimal TT3. Bila ini berhasil,maka wanita hamil juga akan mempunyai status minimal TT3 dan akan memberikan perlindungan tetanus beberapa tahun kedepan. Mari kita dukung peningkatan cakupan vaksinasi tetanus, baik disekolah, di tempat kerja dan di tengah-tengah masyarakat. Semoga tidak ditemukan lagi ada bayi meninggal karena tetanus...paling tidak setiap kelahiran 1001 kelahiran. Semoga Tuhan memberkati setiap petugas imunisasi diseluruh dunia

Kutipan Doa untuk Lena Saragih, yang penderitaannya belum berakhir...juga

Ya Allah Yang Maha Kuasa,penguasa langit dan bumi dan segala kehidupan manusia, pencobaan yang kami alami ini adalah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Ya Tuhan sungguh kami tidak punya kekuatan untuk menghadapi semua ini. Kami hanya bisa menghadapinya bila mendapat kekuatan dariMu Tuhan. Sekarang ini sepertinya tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, selain menanti kebesaran Tuhan. Kami sudah tidak bertenaga lagi ya, Tuhan. Pikiran kami sudah sering seperti berhenti. Setelah dua bulan lalu sebelah rahang kanan atasnya di buang, kami sungguh berharap semua penyakit akan selesai, tetapi kejang dan nyeri hebat selalu datang, dan membuat kami semua tidak sabar. Ampuni kami ya Tuhan, karena kami tidak sadar bahwa dia menderita hidrocephalus, karena ada cairan berlebih diotaknya dan juga tumor yang diduga ganas dan menjalar dari bagian tubuh yang lain. Kami sering membimbingnya untuk mengurangi nyeri dengan mengalihkan perhatiannya, sering sekali berhasil ya Tuhan, tetapi kadang juga gagal dan dia kejang beberapa menit. Sekarang ini kami sekeluarga dan juga para kerabat, kami hanya bisa melakukan pengobatan sesuai prosedurnya, dan hanya kekuatan Tuhan yang kami tunggu, tidak ada apapun lagi yang kami tunggu. Dia yang sepanjang hidupnya diabdikan untuk keluarga, berganti-ganti mengurus anak-anak kakaknya dan adiknya , hingga skarang dia sangat menderita..menderita sekali, bahkan membayangkannya saja pun saya takut. Saya takut membayangkan nyeri hebat yang akan selalu dia alami, saya takut membayangkan pemasangan selang dari otak ke perut atau operasi di otak kecilnya, yang mungkin membuat dia tidak merasakan apa-apa dalam waktu lama; bahkan bisa tidak bangun untuk waktu yang lama, bahkan selama-lamanya. Ajar kami Tuhan untuk bernbuat apa saja, bila itu membuat dia sembuh. Ampuni dia dan kami semua kami Tuhan atas segala pelanggarannya kepada Tuhan, terutama waktu berobat kampung selama ia sakit. Ya Tuhan, beberapa kali permohonan ini terhenti ditulis...dan menunggu penguatan dari Tuhan. Hanya Tuhan yang membuat kami senang, untuk oppung fika yang sudah tua dan kurang pendengaran, dia sudah baca hasil pemeriksaan MRI nya dan sedikit mengerti, betapa hancur hatinya..dan hanya kekuatan Tuhan yang bisa membangunnya. Ya Tuhan, bila kami dapat merasakan kehadiranMu Tuhan, maka kami senang, datanglah ya Tuhan, datanglah ke rumah kami, datanglah Tuhan ke Rumah Sakit, tatap saja dia Tuhan dia akan tenang, tatap saja Tuhan..dia akan senang..dia dan kami akan merasa tentram..bila Tuhan tatap saja. Dan ajar semua kami Tuhan agar tidak lagi meninggalkan engkau dalam kesusahahan ini. Kiranya semua anggota keluarga (bapak, kakak, adik,lae, ma Fika, makela dan semua yang ada) dapat merasakan kehadiran Tuhan, dan berharap pada kekuatannya. Ya Tuhan..bersamamu kami senang walau dalam kesusahan yang hebat sekarang ini. Saya hanya bisa ikut merasakan beban ini dari tempat yang sangat jauh, tetapi bila Tuhan ingin saya pulang ke Medan, saya akan pulang. Tidak tahu mana yang harus saya lakukan sekarang ini ya Tuhan, hanya menunggu kekuatan Tuhan saja, kami berserah...kami berserah. Kami sudah berseru dalam tangis ya Tuhan, bahkan hambaMu Ephorus sudah membimbing kami..dan sekarang tidak ada lagi yang bisa kami lakukan..kepadaMu Juruslamat kami berserah....kami berserah, terpujilah Tuhan sekarang dan selama-lamaNya..Amen...Amen.Amen.

Kamis, 09 September 2010

Apollo 13

Hidup seperti apollo 13, yang mengalami masalah dengan mesin roketnya pada 11 April 1970. Ketika petugas kontrol di Bumi (Houston, AS) mengatakan mereka hanya dapat menghidupkan mesin roket selama 35 detik. Dan tentu akan butuh waktu sekitar 4 hari untuk sampai ke bumi dari orbit bulan. Sedangkan suhu mendekati titik beku, dan para astonout hanya memiliki sedikit makanan, tidak cukup pemanas, dan tentu ada masalah dengan pembuangan CO2 yang dapat meracuni mereka setiap saat. Tetapi sang ahli, kapten penerpangan itu Kapten AL James Lovell, memutuskan untuk menggunakan mesin roket selama 5 menit, jauh lebih lama dari yang di anjurkan para ahli di pusat kontrol. Para ahli itu tentu sangat sudah berpengalaman, dan sudah mengadakan beberapa semulasi di bumi. Bahakan selama empat jam setelah mesin roket pesawat luar angkasa itu bermasalah (1 tabung meledak), para ahli penerbangan luar angkasa dan teknisi sudah mensimulasikan beberapa jalan keluar. Kesalahan dalam waktu penggunaan mesin roket akan membuat pesawat meledak dan para astronout akan menjadi abu yang beterbangan diangkasa. Keputusan berani dan penuh perhitungan sangat diperlukan, untuk bisa meneruskan kehidupan dan membuat orang-orang yang senantiasa menantikan kita tidak bersedih atau menyesal. Bila yakin Tuhan yang paling mengetahui tentang hidup kita, maka terkadang kita merasakan hidup yang lebih panas dan kurang menyenangkan, tetapi itu yang membuat hidup kita bisa bertahan dan bertahan, dan membuat kehidupan kita dinantkan penduduk bumi, dan bertepuk tangan panjang ketika melihat kita hadir, seperti kehadiran para astronout itu yang mendarat dengan mulus di laut pasifik, mendarat dengan penantian panjang jutaan manusia diselurh dunia. dan mereka mendapat tepuk tangan yang sangat panjang dan tetesan air mata haru dari para keluarga dan kerabat, bahkan orang yang tidak mereka kenal. Dan Tuhan memenpatkan kita di tempat yang sekarang, pekerjaan, sahabat,keluarga, semoga mereka-mereka bertepuk tangan bangga atas kehadiran kita, semoga.

Rabu, 21 Juli 2010

Stimulus dan Respon

Butuh lebih 10 jam mengelola stimulus dan respon...ahhh..ruang waktu sebanyak itu ternyata ada dan hanya diisi dengan kletek-kletek dikepalaku dan kini belum ada respon terbaik..tinggak menunggu Roh di hati terdalam..kuduslah..supaya kudus responnya. Stimulus iblis dengan memaksimalkan jeda waktu..semoga menghasilkan respon malaikat baik hati..God help me, amen

Senin, 19 Juli 2010

RAPAT

Biasanya bila ada rapat undangan sudah dikirim minimal 1 minggu sebelum hari “H”. Oleh karena itu tidak ada alas an untuk tidak ingat, atau ada agenda bersamaan yang tak terduga sebelumnya, atau bahkan dengan sengaja pura-pura tidak tau. Dengan demikian rapat yang pastinya penting, harusnya paling tidak dihadiri oleh seluruh pengambil keputusan dan paling tidak dihadiri oleh minimal 80% yang wajib datang atau yang diundang. Namun pada kenyataan, saya baru saja (2 hari sebelum posting tulisan ini) mengikuti rapat yang dari segi substansi dan dari sedikitnya yang hadir dengan seharusnya, rapat itu sungguh merangsang adrenalin saya dan meningkatkan tekanan darah, yang selama rapat saya tekan-takan terus supaya tidak ada pernyataan atau pertanyaan saya yang menyentuh sedikitnya yang hadir, sedangkan substansia adalah evaluasi. Untuk berikutnya, agar terhindar dari hal yang serupa beberapa hal dapat dilakukan :
1. Sosialisasi nilai yang terkandung dalam rapat (bukan materi rapatnya). Misalnya kalau itu rapat evaluasi kerohanian, maka dapat disosialisasikan bahwa kita akan menentukan sejauhmana kita sudah membawa jemaat lebih dekat kepada Tuhan, dan kita akan menetapkan langkah-langkah apa yang kita lakukan supaya iman jemaat lebih bertumbuh dan berembang. Jadi kita bukan rapat, tetapi berusaha membawa jemaat supaya bertumbuh dan berkembang melalui pelayanan yang akan kita bicarakan.
2. Fokus pada kekuatan internal seluruh yang wajib hadir untuk memastikan bahwa kehadiran dan ketidak hadirannya berpengaruh terhadap kerohanian jemaat pada waktu yang akan datang. Misalnya : menggali potensi beberapa peserta secara acak, jangan terfokus pada orang-orang yang sering menunjukkan potensinya saja. Karena blow up potensi orang tertentu saja akan mengakibatkan antipati dari orang lain yang tidak pernah di blow up. Karena semua manusia punya kebutuhan dihargai dan menghargai.
3. Hindarkan kekuatan factor eksternal, karena hal itu hanya bersifat kondisional. Dimana sikap yang terjadi tidak tulus. Misalnya : yang tidak hadir di beri periangatan, hal seperti ini tidak membuat orang tulus untuk hadir, tapi semata-mata hanya menghindarkan peringatan.
4. Perlu kontrak dan komitment di awal acara, sehingga jumlah peserta tidak berkurang dari menit ke menit, dan akhirnya yang tinggal di ruangan menjadi mudah frustasi dan emosional. Misalnya dengan menetapkan schedule time nya.
5. Gunakan multi media sebaik-baiknya.
6. Metode kegiatan menggunakan metode orang dewasa, dimana setiap orang dimungkinkan untuk kreatif secara maksimal, misalnya dengan membagi komisi-komisi dan diakhiri dengan pleno.
7. ………………….

Selasa, 13 Juli 2010

Bila Pemimpin ; Bagai Buah Matang di Pohon

Bila pemimpin di ibaratkan buah, maka kita akan dapat menggolongkan beberapa golongan pemimpim bersadarkan kematangannya, andai ia adalah buah. Kita pikirkanlah durian, kuini, mangga dan lainnya. Menjadi pemimpin sama dengan memberi harapan kepada banyak orang, bukan hanya bawahannya tentang sesuatu nilai yang dapat dirasakan sepanjang waktu, bahkan lama sekali hingga pemimpin itu meninggal. Persis seperti buah, kalau dia jatuh sebelum matang, atau diambil sebelum matang, dapat dipastikan dia akan segera diolah dan hanya berguna beberapa waktu, itupun dengan bantuan pengawetan. Dan nasibnya akan segera masuk lubang WC. Lumayan kalau di olah menjadi kompos, masih berguna walau agak jorok dan bentuknya sudah pasti tidak ada jati diri seperti aslinya. Pikirkan kebun pembibitan, suatu kegiatan untuk mejaga kelangsungan kehidupan. Satu bibit akan bertahan sangat lama, setelah buah terjatuh atau terlepas dari pohonnya. Bahkan ia akan memberi manfaat yang sangat lama, dan sering lebih baik dari induk pertamanya. Banyak sekali mahluk berharap padanya; tempat perlindungan, memberi kesejukan, keindahan, bahkan kesejahteraan hidup. Dan pembibibtan hanyalah menggunakan buah yang sudah matang, benar-benar matang, bahkan jatuh sendiri dari pohonnya. Lihatlah kelapa muda kawan, hanya memberi rasa segar tidak lebih dari 5 menit; tapi lihatlah kelapa tua yang jatuh dari pohon yang terbawa sungai hingga jauh tak terhingga, ditanah manapun terdampar, bila masih bisa berakar, akan tumbuh tinggi dan memberi banyak kesegaran dan manfaat kepada banyak orang, hingga berpuluh-puluh tahun. Sabarlah hingga matang, dan menjadi pemimpin. Kelapa muda memang enak, bagi pedagang dan bagi pelancong dan orang-orang pelesiran yang tak jelas dari mana datang dan kemana perginya.

SELESAI

Pengalaman hari ini bertemu dengan salah satu pejabat kantor yang motto hidunya seperti judul tulisan ini. Apapun yang sedang kita hadapi atau kerjakan, selalu akan selesai dengan 4 (empat) cara :
1. Selesai dengan usaha kita sendiri
2. Selesai karena bantuan orang lain
3. Selesai karena dikerjakan orang lain
4. Selesai dengan sedirinya.]
Dan dari keempat cara itu, yang manapun yang terjadi,semuanya pasti selesai. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk ragu-ragu menghadapi hidup ini; tidak ada alasan untuk tidak ikhlas dalam melakukan sesuatu, terutama bila itu menolong orang lain. Karena kalaupun tidak kita yang mengulurkan tangan untuk menolongnya, maka akan ada tangan lain yang akan menolongnya, bahkan mungkin saja tangannya lebih kekar, lebih lembut dan lebih pas pegangannya...

Mencuri dan Dicuri

Siapapun jengkel bila mengalami pencurian, atau kehilangan sesuatu karena dicuri dengan orang lain. Secara logika, pencuri adalah orang yang sangat berkekurangan, sehingga kadang-kadang perilaku mencurinya pun bisa di maklumi karena betapa hidupnya secara minimum tidak bisa dia penuhi bila dia tidak mencuri. Bahkan bila tidak mencuri pada saat itu, dia tidak bisa makan dan minum dan bisa mati kelaparan, salah satu cara mati paling menyakitkan dan tidak bermartabat....

Minggu, 11 Juli 2010

Pembunuh berdarah merah

Bila seorang petugas kesehatan, memotivasi seorang ibu hamil untuk seksio atau operasi melahirkan, padahal ibu itu bisa melahirkan secara normal, dimana petugas itu melakukannya hanya demi beberapa ratus ribu rupiah. Dan operasi itu senddiri menimbulkan bekas luka pada endometrium atau bagian dari uterus (rahim). Dan pada kehamilan berikutnya, ibu itu mengalami placenta previa dan mengakibatkan perdarahan. Andai ibu itu mengalami perdarahan hebat dan terlambat ditolong, keadaan bisa mengakibatkan kematian pada janin dan ibunya. Bila ini terjadi, bukankah si petugas kesehatan tadi sudah menjadi pembunuh yang sangat keji..keji dan sangat kejiiii, walau bajunya putih seperti malaikan penolong, tapi kelakuannya seperti kuntilanak pencabut nyawa..semoga tidak terjadi lagi.

Kamis, 24 Juni 2010

Berubah bila menghadap resiko

Karena setiap orang berharap tidak mendapat resiko dari pilihannya pun dari aktifitasnya, karena resiko berarti sesuatu yang merugikan yang dapat terjadi diluar perhitungan maupun yang sudah diperhitungkan. Dan tidak ada satu manusia di dunia ini yang tidak tertarik pada saat kita membicarakan resiko. Misalnya bila anak tidak di imunisasi BCG, maka dia beresiko lebih besar tertular penyakit TBC dibanding dengan bayi yang mendapat vaksin BCG. Anak yang malas belajar, beresiko tidak naik kelas, anak yang tidak naik, dan sebagainya.
Lihatlah betapa susahnya kita mengajak masyarakat banyak untuk mengurus mereka sendiri, terutama tentang kesehatan. Betapa susahnya untuk mengajak mereka ke Pos Yandu agar anak mereka mendapat imunisasi sehingga bias mempunyai kekebalan terhadap tujuh penyakit menular dan berbahaya, yitu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I); Hepatitis B, TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan campak. Seolah-olah kebutuhan vaksinasi anaknya itu dianggap kebutuhan petugas kesehatan. Tetapi apa yang terjadi bila suatu saat banyak anak yang menderita penyakit menular ( PD3I) tadi yang sering kita kenal dengan wabah (our break) maka masyarakat beramai-ramai menyalahkan petugas kesehatan. Apakah itu salah petugas kesehatan ?. Paling tidak, petugas kesehatan belum maksimal dalam upaya-upaya pendidikan kesehatan dan mobilisasi masyarakat, sehingga masyarakat tidak merasa berhadapan dengan resiko walaupun perilakunya memperbesar resiko tertular penyakit dan menjadi penular penyakit.
Menghadapkan orang pada resiko akan membuat orang bergerak, dikarenakan orang takut menghadapi resiko, terutama dua resiko ( kesakitan dan kematian ). Andai kita berhasil membuat seolah-olah masyarakat akan berhadapan dengan resiko sakit dan resiko mati bila dia tidak melakukan perilau tertentu, mungkin akan semakin banyak masyarakat yang bergerak dari posisi tidak berperilaku mendukung kesehatan menjadi pendukung kegiatan kesehatan. Semoga..dan tetap semangat..!!

Selasa, 22 Juni 2010

Mengubah keadaan

Yang dimaksud pada judul diatas adalah bagaimana membuat orang-orang berubah seperti yang kita harapkan untuk kebaikan orang banyak. Dalam kehidupan kita temukan orang-orang dengan pilihan-pilihan tertentu dan alasan-alasan tertentu pula. Kadang alasannya sama pilihannya berbeda, atau alasan berbeda tetapi pilihannya sama. Bila kita sedang ada capacity building dalam bentuk rekreasi, retreat, out door training/out bound dan lainnya; dapat kita peragakan kira-kira seperti ini :
1. Tampilkan beberapa gambar, seperti segitiga, segi enam, bujur sangkar dan bulatan.
2. Seluruh peserta menuliskan pilihan gambar yang paling disukai, dengan alasannya.
3. Pastikan bahwa alasan memilih lebih penting dari pada pilihan itu sendiri, contoh :alasan memilih segitiga tidak lebih penting dari alasannya. Jadi seseorang harus punya alasan yang kuat untuk meimilih satu diantara beberapa ppilihan.
4. Eksplorasi dan bandingkan pilihan dan alasan memilih masing-masing atau berkelompok; tergantung situasi.
5. Tawarkan apakah ada yang mau ganti pilihan setelah eskplorasi alasan orang lain.
6. Bila ada tanyakan alasan berpindah.
7. Tunjukkan makna dari setiap gambar, misalnya orang yang suka segitiga itu berjiwa pemimpin.
8. Tanyakan apakah ada peserta yang mau pindah pilihan ke segi tiga, bisa juga di eksplorasi mengapa mereke tidak mau pindah, apakah mereka tidak suka menjadi pemimpin.
9. Tunjukkan makna segi enam, misalnya perfecsionist, suka yang rumit-rumit, suka tantangan.
10. Tanyakan apakah ada yang mau pindah ke segi enam dan eksplorasi seperti sebelumnya.
11. Tunjukkan makna bujursangkar, misalnya orangnya sederhana.
12. Tanyakan apakah peserta mau pindah ke segi enam, eksplorasi seperti sebelumnya.
13. Tunjukkan makna dari bulatan, misalnya orangnya suka sex....hahahaha, mungkin yang ini semua suka, dan peserta menyesal tidak memilihnya, sementara yang memilih pura-pura malu.
14. Yang ini eksplorasinya perlu hatihati dan perlu keahlian khusus...hahahaha, bila perlu undang Jandes Saragih..( jual diri nih...).

Setelah acara pilih memilih selesai, refleksinya diarahkan kepada : begitulah orang-orang membuat pilihan. Kadang alasannya jelas kadang tidak. Ada yang alasannya sama dengan orang lain, tetapi dia memilih gambar yang berbeda. Sudah dieksplorasi dan diberi penjelasan, bahwa dengan alasan yang dia buat sebenarnya dia salah memilih gambar, tetap saja dia tidak mau memilih gambar. Oleh karena itu orang tidak ikut aturan itu adalah satu pilihan. Bila kita berdebat tentang pilihannya, orang ini tidak akan berubah. Cara paling mudah mengubahnya adalah memperbincangkan alasannya. Lain alasan, tentu lain perbincangannya, lain intervensinya, dan ini juga butuh keahlian..hahahaha, jualan lagi. Sehingga tidak semua pilihan yang salah ddiatasi dengan penyuluhan...salah kaprah oiii. Bila alasan-alasan dipahami dan diatasi, maka orang-orang akan lebih mudah mengubah pilihan, tentu pilihan yang membuat kehidupan lebih baik bagi dirinya dan orang banyak..selamat mencoba, kalau belum maksimal, ulangi dan ulangi dan ulangi..

Rabu, 21 April 2010

Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)

PHBS merupakan upaya penting, untuk upaya promotif dan preventif, bahkan untuk kuratif. Sehingga kualitas kesehatan dapat ditingkatkan, dijaga, bahkan dipulihkan. Karena perilaku hanya dapat diubah oleh yang bersangkutan dan yang lain hanya sebagai stimuator saja, maka PHBS itu perlulah kita mulai dari diri kita sendiri, kita yang mampu melakukannya. Dengan kita melakukan itu, maka dengan sendirinya akan tercipta "bina suasana" yang akan "memaksa" orang-orang disekitar kita untuk ikut melaksanakannya. Dengan demikian kegiatan ini akan terus berkembang, semakin luas dan semakin luas, yang pada akhirnya semua penduduk akan berPHBS. Karena tanpa kesehatan semuanya tdak berarti, mari mulai berPHBS.


PHBS PADA TATANAN KELUARGA

1 Semua anggota keluarga tidak merokok
2 Persalinan ibu yang terakhir ditolong oleh tenaga kesehatan
3 Kehamilan yang sekarang diperiksakan ke tenaga kesehatan
4 Ibu saat ini sedang ber KB (menngunakan salah satu alat KB)
5 Bayi/balita anggota keluarga sdh mendapat immunisasi
6 Bayi/anak balita keluaga ditimbang rutin setiap bulan selama enam bulan terakhir
7 Mengkonsumsi makanan seperti nasi atau makanan pengganti
8 Keluarga mengikuti assuransi kesehatan
9 Mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum makan dan sesudah BAB
10 Menggosok gigi setelah makan pagi dan sebelum tidur malam
11 Melakukan aktivitas fisik setiap hari
13 Keluarga memiliki jamban yang memenuhi syarat
14 Memiliki sarana air bersih
15 Memiliki tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat
16 Memiliki saluran pembuangan air limbah
17 Memiliki ventilasi rumah
18 Lantai rumah bukan tanah


PHBS PADA TATANAN SEKOLAH

1 Semua murid memenuhi syarat kebersihan pribadi
2 Tidak merokok di kelas/ lingkungan sekolah
3 Anak sekolah melakukan olah raga dengan teratur
4 Tidak menggunakan Napza
5 Tersedia jamban yang memenuhi syarat di sekolah
6 Tersedia air bersih di sekolah
7 Tersedia tempat sampah yang memenuhi syarat
8 Tersedia Sarana Pembuangan Air Limbah
9 Ruangan kelas memiliki ventilasi yang memenuhi syarat
10 Jumlah anak sekolah yang belajar sesui dengan luas lantai kelas
11 Tersedia warung yang memenuhi syarat di lingkungan sekolah
12 Apakah sekolah melaksanakan program UKS
13 Sekolah memiliki taman sekolah


PHBS PADA TATANAN TEMPAT KERJA

1 Karyawan menggunakan alat pelindung yang memenuhi syarat
2 Ada kebijakan karyawan tidak merokok
3 Seluruh pekerja olah raga dengan teratur
4 Kayawan bebas dari NAPZA
5 Pekerja dan lingkungan tempat kerja bersih
6 Seluruh karyawan masuk anggota assuransi kesehatan
7 Tersedia jamban yang memenuhi syarat
8 Tersedia air bersih
9 Tersedia tempat sampah yang memenuhi syarat
10 Tersedia SPAL
11 Seluruh ruangan memiliki ventilasi yang memadai
12 Pencahayaan diruangan memenuhi syarat
13 Tersedia organisasi K3
14 Tersedia kantin yang memenuhi syarat
15 Lingkungan bebas dari bahan berbahaya
16 Tersedia klinik untuk kebutuhan karyawan

Semoga bermanfaat, dan indikator ini selalu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan keadaan.

Bersabar

Andai apa yang kita inginkan sekarang ada sekarang, yang kita inginkan besok ada besok, kita perlu satu ada satu, perlu dua ada dua; dapat dipikirkan betapa kacaunya dunia ini beserta segenap isinya. Kebutuhan pada dasarnya adalah untuk mempertahankan kehidupan agar keadaanya lebih baik atau bisa disebut lebih sejahtera. Namun sadar atau tidak sadar sesungguhnya manusia tidak tahu persis apa yang dia butuhkan.....

Rabu, 31 Maret 2010

Yang Lebih Penting Itu Penting

Manusia adalah mahluk sosial; ini sdh umum. Penghyatan dan pengamalannya yang berbeda-beda. Mahluk sosial berarti supaya tidak mati dia butuh mahluk lain, langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian dibutuhkan interaksi yang efektif antar mahluk hidup terutama antar sesama manusia, karena sesama manusia, punya kebutuhan yang relatif sama. Bila hubunngannya tidak efektif, bisa terjadi perebutan kebutuhan yang relatif sama tadi, dan akhirnya perang..perang, bahkan perang saudara. Interaksi, atau saling berhubungan berarti juga saling memberi satu dengan yang lain, satu terhadap kelompok yang lain, satu kelompok terhadap kelompok yang lain, dan seterusnya. Kegiatan ini bisa kita peragakan dalam permainan puzzle. Kita membagi potongan-potongan gambar kepada sekelompok, misalnya satu bentuk yang dipotong 5 (lima). Tetapi satu potong dari yang 5 potong tadi ada pada orang lain, dan satu potongan punya orang lain dengan bentuk potongan beda sebagai gantinya. Sehingga jumlah potongan tetap 5, tetapi tidak akan pernah menjadi satu bentuk yang diinginkan, bila tidak mendapat satu potongan dari orang lain dan memberi satu potongan ke orang lain juga. Permainan ini dengan syarat tidak boleh meminta, tetapi hanya boleh memberi dan menerima, tanpa ada suara. Pada saat permainan, kita akan melihat betapa kacaunya bila orang tidak berusah memberi dan orang lain tidak berusaha untuk memikirkan apa dan kepada siapa dia harus memberi. Pada akhirnya akan diperoleh juga hasil bahwa orang yang cepat mengetahui kebutuhan orang lain dan memberikan potongan yang dibutuhkannya, diapun akan cepat menggabungkan potongan-potongannya. Dan pada saat seseorang tidak berusaha memberi kepada orang lain, dia tidak akan pernah berhasil, karena dia memiliki satu potongan yang sesungguhnya milik atau kebutuhan orang lain. Bila tetap dipegang, dan tidak diberikan, potongan ini akan menjadi penyebab kegagalan. Mari renungkan...

Senin, 29 Maret 2010

Bersemangat..!!

Hidup penuh gairah, membuat hidup penuh warna dan kesuksesan. Inilah fokus yang seharusnya mendapat perhatian. Sering saya berikan contoh baling-baling bambu Doraemon. Semakin besar baling-baling dan putarannya, maka semakin jauh Doraemon bisa terbang. Oleh kerena itu kita perlu introspeksi sebesar apa dorongan dari dalam diri kita untuk mendorong kita mengerjakan sesuatu. Berbagai hal yang bisa menjadi dorongan dan perlu mendapat perhatian seperti :
* Kegiatan yang bila tidak kita lakukan dengan serius bisa mengakibatkan kerugian, bahkan kematian pada orang lain. Apalagi sasarannya bayi dan anak.
* Pengamalan dari ajaran agama; bahwa sesunggunya pada saat dirumah ibadah agama kita jelas, tatapi apakah masih sama ketika kita sudah diluar rumah ibadah.
* Merasakan bahwa kita ini tidak hebat-hebat amat; buktinya kalau kita tidak adapun didunia ini, peran kita bisa dilakukan orang lain lebih baik lagi, jadi jangan merasa terlalu penting. Tetapi anggaplah orang lain lebih penting.
* Kita tidak bisa melayani diri kita sendiri; contohnya, beditu susahnya bila kita harus memangkas rambut kita sendiri. Jadi kerjakan dengan baik apa yang bisa kita kerjakan, dan biarkan oranglain mengerjakan apa yang dia mampu kerjakan.
* Pilihan untuk masuk surga atau neraka; karena Iman yang hidup berbuah pelayanan, jadi kalau pelayanannya setengah hati, imannya juga setengah, agamanya setengah, dan Surganya mungkin juga jadi nggak jelas.
* Life is Short ; hidup sangat pendek untuk berbuat baik, jadi kita gunakanlahd dengan baik..

Semangatlah..!!

Kamis, 25 Maret 2010

Rasanya sama saja

Pembicaraan sambil pulang kantor bersama teman saya kali ini matematika yang nggak jelas rumusnya, tetapi kalau dipikirkan maknanya logis juga. Kira-kira isinya ; apapun kegiatan dan kondisi kita di dunia ini bila lakukan penjumlahan, maka hasil akhirnya lebih kurang sama dengan orang lain. Misalnya orang kaya yang punya banyak harta ; misalnya mobil dan rumah besar, dibanding dengan orang miskin yang hanya punya sepeda dan rumah sederhana. Bila kesenangan dan kesusahan dua orang itu dijumlahkan (kesenagan misalnya + dan kesusahan - ) maka hasilnya relatif sama. Orang yang punya mobil mungkin sangat senang pada saat naik mobil-mobilnya, tetapi bisa saja susah hatinya bila mobilnya rusak dan butuh biaya yang relatif besar, atau misalnya bila mobilnya menabrak orang. Yang hanya punya sepeda, tentu merasa susah harus mendayung, tetapi tidaklah terlalu susah bila dia menabrak orang, atau misalnya sepedanya rusak, mungkin dia bisa perbaiki sendiri. Jadi bila ditambah kurangkan kesusahan dan kesenangan dua orang itu, hasilnya lebih kurang sama. Misalnya lagi orang yang sudah kawin tapi belum punya anak, dibanding dengan orang yang punya anak. Kalau kita perhatikan, yang punya anak tentu punya rasa bahagia, bisa bermain dengan anaknya, tetapi pada sisi lain sering juga banyak kesenangan kedua orang tua tertunda karena anak, atau bahkan ada orangtua yang begitu emosinya melihat anaknya, mungkin karena kurang patuh, kurang rajin, dan sebagainya. Pada sisi lain yang belum punya anak, tentu merasa susah karena rasanya kurang lengkap satu perkawinan bila tidak ada anak, tetapi kedua orang tua tersebut dapat menikmati waktu-waktu banyak sekali kesenagan, tanpa ada gangguan anak. Mereka juga tidak perlu bersusah-susah memenuhi kebutuhan anak. Hal-hal lain yang terjadi pada kehidupan masing-masing orang, dapat dibanding-bandingkan antara satu dengan yang lain, dan bila kita pikirkan lebih dalam, maka hasil akhir dari kesenagan dan kesusahan itu pada orang yang berbeda relatif sama. Pada akhirnya, baju yang pas dan enak untuk dipakai adalah baju yang ukurannya memakai ukuran kita, bila bukan demikian, maka kita akan lelah sekali menjalani hidup ini. Demikianlah Tuhan menatur jagat raya dan segala isinya, sehingga semua bisa teratur.

Selasa, 23 Maret 2010

Setting Itu Perlu

Menempatkan sesuatu pada tempatnya, itulah yang dimaksud setting pada tulisan ini. Kalau tempat sudah tepat maka sangat mudah bagi kita untuk mengelola banyak elemen menuju satu tujuan yang diinginkan. Sebaliknya salah tempat membuat kita jadi kerepotan, membuang tenaga dan pikiran yang tidak perlu, dan pencapaian tujuan bisa lebih susah, atau kurang memuaskan. Dalam suatu pertemuan, training misalnya; setting sangat menentuka proses training sekaligus pencapaian hasilnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Pastikan tidak ada pemisah fisik (seperti meja berlapis) antara fasilitator dan peserta.
2. Media ; seperti display, peraga dan alat lainnya dipstikan dapat dilihat dengan mudah dan jelas oleh peserta.
3. Pastikan kita mendekat ke peserta secara merata, artinya tidak ada peserta yang sulit untuk di dekati.
4. Peserta diupayakan bisa saling pandang / interaksi sehingga peserta tidak mudah bosan dan informasi/ide dapat dibagi dengan mudah dan optimal.

Dengan setting yang tepat, peserta akan merasa lebih nyaman dan aman di tempatnya dalam waktu yang lama. konsentrasi peserta juga lebih fokus, bila mereka bisa saling berinterakasi penuh sebagai satu kelompok.

Jadi bila ingin berhasil di dalam kelompok dalam satu acara...pastikan settingnya tepat. Semoga....

Selasa, 23 Februari 2010

Besar Karena Orang Lain

Hal yang prinsipil namun sering dilupakan " kita besar karena orang lain ". katakanlah seorang guru TK yang hebat dan terkenal,sesungguhnya tidak berarti apa-apa bila tidak karena anak-anak TK yang masih imut-imut itu, dan jauh lebih kecil dari sang guru, baik secara fisik, intelektual dan kemampuan lainnya. Demikianlah juga dengan orang besar itu, katakanlah Dosen yang Professor, sebenarnya tidak besar juga kalau bukan karena mahasiswa nya yang bisa dikatakan "grade" nya jauh ketinggalan dibanding sang Professor. Dan contoh-contah lainnnya akan membuktikan orang hanya bisa besar karena orang lain. Dengan demikian ciri-ciri kita sudah menjadi besar adalah apabila kita sudah dibicarakan orang lain, dan kegiatan-kegiatan kita sudah menjadi kegiatan-kegiatan orang lain. Jadi teruslah berbagi pengetahuan, ketrampilan dan lainnya kepada orang lain, karena pada saat apa yang kita bagi mereka kerjakan, kita sudah menjadi orang besar. Dan orang-orang besar itu lebih mudah bahagia..percayalah temans !!

Dingin atau panas, tergantung yang di dalam

Pertmuan dengan temans ini sangat penting, karena agendanya menentukan kegiatan yang sangat berguna untuk kesehatan anak-anak di Kotaku ini. Tempat yang dipilih di Rumah Teh dan sudah booking kamar VIP. Tapi kenapa ada bintik-bintik keringat di kepala dan punggung ya, padahal baru saya sendiri yang diruangan VIP ini, yang luasnya tidak lebih dari 15M. Tapi kebiasaan yang saya pelihara hingga kini sungguh ampuh.
1. Tetap menganggap ruangan ini suhunya seperti yang saya inginkan, yaitu sejuk.
2. Mengurangi pergerakan fisik.
3. Menurunkan tempramen, terutama tidak mengeluh, termasuk kepada pegawai restoran itu.
Semakin bertambah kwan yang datang, maka hukum fisika berlaku. Radiasi/pancaran panas dari tubuh temans menyatu dan mulai terdengar keluhan-keluhan, hingga big boss trestoran turun tangan dan menunjukkan indikator tegangan listrik sekitar 165, sehiingga kompressor ACnya tidak maksimal. Hal ini membuat saya bertambah maklum dan tenang, nggak tau dengan temans yang lain,
Mulailah ada temans yang kipas-kipas, mengeluh, berulang-ulang melihat AC, dan tentu ini menambah panas. Dan akhirnya kami pindah ruangan, namun masalahnya sama. kejadian yang sama terulang, bahkan sampai buka pintu segala. Dan tidak dapat dihitunglagi berapa kali kalimat "panas kali" terdenganr diruangan kecil VIP itu. namun untuk saya, tak pernah terucap, bahkan terpikirkan pun tidak mengatakan panas, dan hasilnya : SAYA TIDAK KEPANSAN...cobal;ah temans, kata orang-orang inilah yang disebut hypnotherapi.

Minggu, 21 Februari 2010

Berangkat Dari Keyakinan

Mengerjakan yang apapun, kita akan diperhadapkan pada dua hal. Pertama takut tidak mampu atau takut tidak berhasil; dan yang kedua yakin bisa mengerjakan dan berhasil. Pada saat pekerjaan/kegiatan dirancang, akan banyak alternatif,pertimbangan, pendapat dan yang lainnya, yang semuanya mengarah kepada dua hal diatas. Dan bila ini menyangkut aktivitas banyak orang, maka kebanyakan orang akan cenderung membicarakan hal pertama, yaitu ketakutan. Dan bila juga ikut hanyut dengan hal ini, bisa-bisa rencana gagal. Jangankan hasilnya gagal, kegiatannya sajapun gagal. Dan yang paling perlu diingat, ketakutan yang kita bahas panjang lebar itu, biasanya tidak terjadi. Ingatlah pengalaman-pengalaman kita, betapa banyak ketakutan-ketakuatan yang kita pikirkan sebelumnya, ternyata tidak pernah terjadi. Dan karena waktu tidak pernah di putar ulang, kita tidak ada waktu lagi mengerjakan kegiatan itu. Sangat disayangkan. Lalu lihat lagi pengalaman-pengalaman kita, seberapa yakinkah kita pekerjaan yang kita lakukan dapat kita kerjakan dan berhasil. Dan lihatlah, semakin besar keyakinan kita akan hal itu, maka keyakinan itu akan terjadi. Bila ini kita arahkan ke pada pekerjaan-pekerjaan yang berdampak baik bagi orang banyak, yakinlah se yakin-yakinnya bahwa pekerjaan itu bisa dikerjakan dan yakin berhasil baik, lihatlah hasilnya; kita akan memperoleh apa yang kita yakini dengan keyakinan kuat..ayolah temans..!!

Perencanaan matang, sudah memenangi setengah peperangan

Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya mahasiswa yang sudah pada tahap sidang karya tulis, tetapi terasa sekali mereka kurang perencanaan.Perencanaan yang dimaksud adalah termasuk persiapan-persiapan sebelum melakukan suatu kegiatan. Dalam mengerjakan persiapan-persiapan itu, beberapa hal yang perlu dilakukan namun sepertinya tidak mereka lakukan adalah :
~ Penguasaan materi : karena karya tulis ilmiah (KTI) seharusnya hasil karya yang namanya tertulis disampulnya, maka harus pula sipenulis dapat menjelaskan seluruh isinya. Bayangkan saja bila seseorang mengirim pesan singkat (SMS) kepada rekannya, dan pada saat pesan diterima, si penerima pesan bertanya apa maksud SMS tersebut dan sipengirim mengatakan tidak mengerti; dapat dibayangkan bagaimana pendapat sipenerima pesan tersebut. Jadi tidak ada alasan bagi si mahasiswa untuk tidak mampu menjawab pertanyaan penguji sepanjang itu masih dalam lingkup karya tulisnya.
~ Penyelesaian administrasi : Alangkah kesalnya semua yang sudah hadir, bila sidang ditunda gara-gara ada administrasi yang belum selesai, yang menyebabkan sidang dibatalkan. Pada ujian berikutnya, hal ini sangat mempengaruhi suasana sidang.
~ Menyiapkan materi presentasi : Hampir semua sidang KTI menggunakan MS powerpoint. Dan ini tentu sangat berbeda dengan MS Word. Power point berarti, hanya kata-kata yang ada powernya yang dijadikan point. Dengan demikian, setelah selesai membuat bahan tayang dalam bentukpoweer point, perhatikan dan buanglah kata-kata yang belum mengganggu kemampuan anda melakukan penyajian. Dari segi teknis pembuatan media, satu display maksimal berisi 10 baris, dan tiap baris maksimal 7 kata, dan rata-rata satu display dibaca satu menit.
~ Setting tempat : Dalam sidang tentu ada penyaji, ada penguji dan ada audiens. Juga ada alat-alat bantu seperti laptop, LCD, soundsystem, dll. Pastikan posisi alat-alat tidak mengganggu pergerakan anda. Pastikan juga posisi berdiri anda tidak menghalangi pandangan ke materi. Carilah posisi berdiri, tanpa membelakangi oranglain, dan pilihlah posisi berdiri pada sisi ditempat mana paling sedikit audiens.
~ Menyapkan mental : Anda harus benar-benar siap. Rasa khawatir bisa dikurangi dengan berkomunikasi sebanyak mungkin dengan dosen pembimbing dan penguji, hadir lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, dan yakinkan anda yang paling menguasai materi ini, karena anda yang membuatnya.
Hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu, tetapi justru mahasiswa sangat repot adalah menyiapkan makanan dan minuman untuk para dosen yang terlibat. Sebenarnya ini tidakperlu dalam sidang, tetapi bila memang harus diadakan, mintalah bantuan kawan-kawan dekat anda...

Selasa, 01 Desember 2009

Mempersiapkan generasi yang lebih baik

Normalnya, manusia mencintai anak-anaknya atau keturunannya; atau manusia normal mencintai anak-anaknya pun keturunannya. Bukti cinta adalah memberi yang terbaik, sehingga hidup yang dicintai lebih menyenangkan untuk dijalani. Mencintai anak-anak juga berarti mempersiapkan dunia yang lebih baik untuk mereka. Mencintai anak-anak kita berarti mempersiapkan Indonesia yang lebih baik untuk anak-anak kita. Dan Indonesia yang lebih baik hanya bisa dicapai bila kita bekerja dengan sungguh-sungguh untuk negeri ini. Walaupun sesungguhnya negeri ini bekerja sungguh-sungguh kepada kita, sehingga kita bisa menikmati kehidupan yang relatif menyenangkan.

Jumat, 30 Oktober 2009

Manusia Setengah Malaikat ala Perawat dan Bidan (Dalam Pelayanan Imunisasi)

Hampir semua manusia berharap hidup menyenangkan; kerja enak, duit banyak, keluarga yang menyenangkan, fasilitas hidup lengkap, kehidupan social yang nyaman. Seperti kata orang-orang bercanda “kecil dimanja-manja, besar kaya-raya, mati masuk surga”. Namun kenyataannya tidak demikian, yang terjadi sering sebaliknya. Kejadian yang sebaliknya ini dialami hamper seluruh perawat dan atau bidan yang memberikan pelayanan imunisasi pada bayi.

Generasi saat ini pada umumnya tidak menyukai pekerjaan sosial profesional, namun lebih menyukai yang Hi-tech, bekerja diruangan yang megah, wangi, baju yang necis, konsumen yang bersih, gaji yang besar dengan fasilitas kerja yang cukup. Namun pada kenyataannya, mereka yang memilih pendidikan perawat atau bidan dan setelah lulus bertugas dalam imunisasi, mereka akan mendapatkan hal yang sama sekali tidak diharapkan oleh orang-orang (orang muda) saat ini. Mereka akan dihadapkan kepada konsomen yang belum tentu bersih, mereka berhadapan langsung dengan hal-hal yang orang-orang menghindarinya seperti : urine, feses (kotoran), dahak, nanah, kuman, bau, ledir, darah, dsb, ditambah lagi dengan gaji dibawah upah buruh (upah minimum), fasilitas yang relative memprihatinkan untuk seorang gadis (wanita), yang kebanyakan hidup sendiri.

Dalam memberikan pelayanan imunisasi; sebagai manusia normal, pastilah bidan dan perawat tidak akan sanggup memberkan pelayanan ini sesuai dengan harapan. Sebagai manusia biasa, bidan dan perawat yang memberikan pelayanan imunisasi memerlukan gaji yang sesuai, alat kerja yang memadai, alat transportasi, tempat tinggak dukungan social dan sebagainya. Mereka juga seperti generasi lainnya yang ingin jauh dari kotoran, nanah, bau, kuman dan lain-lain yang tidak menyenangkan itu. Namun kenyataannya mereka telah dengan sengaja atau tidak sengaja mereka telah menjadi seorang bidan atai perawat yang mendapat tugas memberikan pelayanan imunisasi. Status sebagai manusia biasa membuat kawan-kawan bidan dan perawat tidak mampu memberikan pelayanan ini dengan baik sesuai harapan, dan kita tidak perlu mencari ini salah siapa.

Untuk kawan-kawan bidan atau perawat yang memberikan pelayanan imunisasi, khususnya di desa; bahwa sumpah yang kita ucapkan pada waktu pelantikan, membuat kita tidak lagi menjadi manusia biasa. Karena sesungguhnya sumpah yang kita ucapkan itu tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa ( kebanyakan). Karena sumpah itu menuntut pengabdian seutuhnya, keikhlasan yang tulus, dan semangat kerja pantang mundur untuk mencapai tujuan.

Manusia setengah malaikat ; hanya itu pilihan. Jadilah manusia setengah malaikat, yang senantiasa diwajahnya terpancar wajah malaikat pada saat bayi dan orangtuanya memandangnya. Wajah seperti malaikat, perasaan seperti malaikat, pikiran seperti malaikat, raganya yang manusia biasa. Hanya keadaan seperti ini yang membuat kita tidak pernah kehabisan tenaga dan akal dalam memastikan semua bayi mendapat imunisasi dasar lengkap. Bila seorang bayi meninggal karena imunisasinya tidak berkualitas, kita akan sangat menyesal, dan wajah malaikat kita akan berubah menjadi wajah pencabut nyawa yang sangat mengerikan.

Dan hanya wajah seperti malaikat yang mendapat tempat disurga, sedangkan wajah pencabut nyawa yang sangat mengerikan itu akan mendapat tempat di Neraka..dan kita akan memilih menjadi :

“Manusia Separuh Malaikat”

Senin, 26 Oktober 2009

Melayani padahal dilayani (refleksi kunjungan Bapa GKPS Simalingkar dalam pesta 100 tahun GKPS NagaSaribu)

Latihan berminggu-minggu, membeli baju baru, menyiapkan acara, menyiapkan peralatan, melakukan perjalanan darat 3 jam..rasanya betul seperti mau melayani di GKPS NagaSaribu itu. Setelah perjalanan panjang dan berklelok selama sekitar 3 jam itu, mulai kelihatan betapa capek jemaat ini untuk persiapan acara ini termasuk untuk mengurus kehadiran kami, betapa mereka lebih cemas dari padaku untuk kesuksesan acara ini, yaitu membuat semua jemaat bersuka cita termasuk kami, tamu yang datang, sekitar 37 Bapa dari GKPS Simalingkar Medan. Benar-benar kami dilayani jemaat ini. Sore hari mereka sudah melayani kami dengan memberi bibit pohon untuk kami tanam, mereka menggali lubang tempat kami menanam pohon yang mereka beri tadi, mereka berikan teh manis hangat, pas untuk udara dingin itu, anak-anak sekolah minggu menyambut kami dengan duduk manis menunggu film yang bahasanya pun aku tak mengerti, tapi mereka tetap duduk manis, satu penghargaan untukku yang menyiakan alat multimedia pinjaman kantor itu. Anak-anak sekolah minggu itu juga menyusun kursi dengan semangat, bagaimana aku bisa mengatakan bahwa mereka tidak sedang melayaniku. Sore itu Joyce Ent Team juga melayaniku dengan mempersiapkan koneksi laptop ke audio sound system, mereka juga menyapkan meja dan speaker untuk meninggikan multimedia itu. Para orang tua, menyediakan kopi yang enak sekali di rumah Orangtua Janerson Girsang & Santra Girsang, sambil mempersilahkan kami mandi air segar itu, sedang mereka sendiri belum mandi. Dan jemaat lain rupanya tanpa terlihat sedang bekerja keras, seperti menyelesaikan film kejar tayang, memasak makan malam kami, supaya tidak terlambat untu acara malam itu. Mereka hanya menyuruh kami duduk di lods dan kami duduk seenaknya berkelompok-kelompok tanpa sadar..mereka sudah bagikan talam besar ditengah-tengah kelompok kecil kami, lalu datang lagi jemaat membawa nasi hangat dalam sumpit, dan mengisi sebanyak-banyaknya, seperti mengatakan" jangan sampai kalian masuk angin, disini dingin, dan disini malamnya panjang..macam-macam pkiran mereka supaya kami memakan sebanyak mungkin masakan itu. Daging pun di sendok tanpa takaran, hampir sama banyak daging dan nasinya, dan datanglah sayur khas itu, berbahan utama batang tengah pisang muda yang dimasak seperti lemang (ombut namanya) semua dalam keadaan baru masak. Setelah doa makan, kami semua menyerbu isi talam seperti sudah tidak makan sejak pagi, seumur hidup baru ini merasaka makan berempat dengan talam besar..terimakasih jemaat GKPS NagaSaribu untuk nilai kebersamaan dan kesetaraan ini, datang lagi membawa minuman, dan setelah itu kami pergi saja dan mereka yang membereskan tempat makan kami...dan sepanjang acara mereka memberi kami keheningan..memberi kami tepuk tangan..dan memberi kami tarian-tarian suka cita..dan dengan mata ber kaca-kaca...terimakasih Tuhan, jemaat ini sudah melayaniku..dan mereka lebih besar dari padaku yang mereka layani, walau awalnya serasa aku ini mau melayani mereka..sesungguhnya kita sedang dilayani oang lain.

Serasa Melayani Padhal Sedang Dilayani (Kutipan Nasehat Temanku : Ibu Iik )

Bukankah sesungguhnya pelayan lebih besar dari tuannya ?. Kalimat yang sudah hafal aku maknanya, walau tak pasti dari dimana tempatnya di Kitab Suci itu. Ketika aku merasa sangat lelah bekerja (mirip kerja paksa dengan gaji relatif besar) sorang temanku (Ibu Iik) bilang, Pak..sesungguhnya kita sedang dilayani kan..walau kita merasa sedang melayani. Lalu kata-kata itu mengubah mind set ku secara besar-besaran. Tak pernah lagi kuanggap aku sedang melayani, tapi sedang dilayani. Sebagai trainer yang lelah setelah satu malam jalan darat penuh kubangan, kening sakit karena terbentur kaca taksi yang jalan sesuka hati, dan waktu berdiri diantara peserta...wouuu mereka sedang melayani saya dengan bersedia duduk mendengar, memberi wajah bersinar, memberi respon, menawarkan minuman ber kali-kali, menawarkan makan siang, menjemput dengan mobil, mencarikan bus untuk perjalanan berikutnya, mengerjakan dengan ceria apa yang saya sarankan, sementara saya hanya memberi tidak lebih satu hal..materi training. dan sungguh saya sedang dilayani.

Senin, 14 September 2009

Sumpah Janji Yang Mengikat Dunia Akhirat

Semua yang memberikan pelayanan yang tak termaafkan bila salah, dengan kata lain kerugian akibat kelalaiannya atau kekurangmampuannya tidak tergantikan, maka ia wajib bersumpah atau berjanji dibawah kitab suci dan rohaniwan. Sebutlah Perawat, Bidan, Dokter, Hakim, Apoteker,dan lain-lain yang disebut profesi. Perawat dan Bidan mempynyai sumpah dengan nilai-nilai yang sama. Kira-kira isinya seperti ini :
1. Saya tidak akan membeda-bedakan klien berdasarkan agama, sosial, ekonomi,.....
2. Saya akan meningkatkan mutu pekerjaan saya....
3. Saya akan bekerja dengan se teliti-telitinya...
4. Saya tidak akan menceritakan rahasia pasien, kecuali diminta pengadilan untuk kesaksian..
5. Saya akan bekerjasama dengan tim kesehatan lain.....
Sumpah ini mengikat dan berjanji sesuai dengan agama, sehingga ini akan senantiasa melekat pada setiap Perawat dan Bidan (baca : petugas ) manakala melakukan tugas profesinya kepada pasien.

Selasa, 21 Juli 2009

SEMAKIN GERSANG SAJA

Tanah ini tanah surga, memang benar. Waktu saya masih anak-anak pada tahun 70an, ketika kita lupa memindahkan stek/batang ubi kayu yang akan ditanam, maka tumpukan batang itu akan tumbuh dengan subur dan akan berumbi juga seperti layaknya ditanam. Sekarang di kampungku (Dusun Sarang Punei, Desa Negeri Tani, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara) setiap jengkal tanah yang aku cintai ini berisi cokelat atau sawit...

Rabu, 24 Juni 2009

Seratusan Juta Sehari


Rangkaian HUT XXI itu membuat hati gembira dan menjadi obat, membuat hati terbuka dan menjadi kekuatan serta membuat hati tulus menjadi kekayaan. Itulah tugas yang baru diselesaikan panitia dalam waktu sekitar 6 (enam) minggu menjelang pesta HUT XXI sekaligus Pembangunan Rumah Tuhan itu. Pada waktu yang sekira 6 minggu ini semua warga jemaat diharapkan bergembira, terbuka hatinya dan tulus ikhlas dalam memberi, dan pada akhirnya diharapkan terkumpul uang 150 (seratus limapuluh juta) pada hari H tanggal 14 Juni 2009. Warga jemaat sebagai sasaran utama berjumlah 170 (seratus tujuh puluh) kepala keluarga (KK). Dengan menggunakan hitungan sama rata – sama rasa maka dengan mudah 150.000.000/170 = …dengan mudah diperoleh angka per KK. Alangkah mudahnya mengerjakan ini, dan setelah diperoleh tinggal buat surat keputusan, bagikankepada warga jemaat, dan dorong mereka membayarnya. Di jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS ) Simalingkar Medan, pilihan diatas tidak diambil. Pilihan yang dilakukan adalah metode yang sangat mendasar dan dikerjakan hampir disemua kegiatan pada seluruh lapisan masyarakat. Dibentuklah panitia, dibuat program kerja, dilakukan sosialisasi dan dilakukan pengumpulan dana. Ini adalah hal yang biasa, dan sudah dikerjakan banyak organisasi dimanapun. Tetapi kegiatan selama 6 (enam) minggu di jemaat itu terasa luar biasa. Dan betul-betul luar biasa. Pimpinan jemaat memberikan target kepada panitia agar dalam kegiatan ini dapat mengumpulkan dana 150 juta untuk keperluan rumah pembangunan rumah ibadah dan mendukung kegiatan operasional. Pada rapat pertama terasa kental sekali aroma 150 juta yang harus diperoleh itu dengan usaha 170 kepala keluarga, yang dimotori oleh panitia. Sangat terasa aroma keraguan, terasa berat sekali beban target ini, terasa buntu jalan ini, terasa harga diri panitia dipertaruhkan dan akan mendapat malu jika gagal, terasa sulit memilih metode. Doa – doa selalu dipanjatkan pada setiap rapat dan pertemuan, nyanyi – nyanyian puji-pujian juga dikumandangkan, wajah – wajah percaya diri juga tetap dijaga. Namun tiada juga terasa getaran – getaran, bahkan getaran-getraran energi – energi yang bergerak berlawanan mulai terasa hawanya. Dan akhirnya pasrah, berserah, dan menunggu. Kami panitia hanya menunggu dariMu Tuhan; bagaimana ini…apa yang harus kami lakukan…bagaimana kami mengelola ini dan itu…apakah kali ini kami akan mendapat malu…dan getaran-getaran itupun terasa, ide-ide pun muncul. Roh kudus bekerja pada saat orang sudah seperti hanyut disungai dan tak berdaya lagi, sehingga pertolongan menjadi mulus. Kegiatan pertama adalah mengadakan : 1. camp sekolah minggu dan remaja untuk kelas III SD ke atas, 2. Malam puji-pujian dan kesaksian, 3. Pastoral untuk warga jemaat, 4. Permainan olah raga per sektor juga perorangan. Camp sekolah minggu remaja membuat semua mereka bergembira dan mendapat pengalaman baru. Kunjungan pastoral jemaat membuat jemaat dan majelis saling mendukung dan menyadari betapa Tuhan adalah sumber Kehidupan, air mata yang keluar pada saat kunjungan itu tidak mengalir dengan sendirinya, tetapi merupakan rangkaian energi yang bergerak dari pikiran, perasaan lalu memberi rangsangan kepada logika, dan memberi sensasi pada seluruh kulit, detakan lain pada jantung, dan tanpa sadar kelenjar mata dipacu, dan air mata keluar tanpa tangisan. Pastoral, mengajak orang-orang untuk merasakan Kehidupan dari Tuhan, membuat jemaat-jemaat itu menangis dalam kegembiraannya. Pada malam puji-pujian dan kesaksian itu, suara nyanyian menusuk jauh ke otot jantung dan merangsang nadi lebih cepat, sebagian menggelengkan kepada karena tak percaya bahwa ada lagu seindah ini. Kesaksian warga jemaat membuat seluruh bulu kuduk berdiri, karena hanyut dalam keadaan nyata, dimana Kekuatan Roh Kudus yang berdiam pada jemaat itu mengalahkan kekuatan jahat yang bertahun-tahun mengganggu dan menguasai ibu dalam keluarga mereka. Kegiatan olah raga itu membuat jemaat mendapat semangat, fanatisme, jati diri dan pada akhir permainan mendapat banyak teman untuk sama-sama bermain. Pertandingan bola kaki itu…wah sungguh mengagumkan, kegembiraan, kekompakan, kepedulian ada disitu. Tak tahu siapa yang menyiapkan jus itu, tiba-tiba sudah siap diminum, dan gol-gol itu menjadi kegembiraan kedua kesebelasan. Keadaan ini tak ada pada sepak bola yang sesungguhnya, ini bukan sepak bola biasa…dan akhirnya tanggal 14 Juni itupun tiba juga…pukul 09.00 WIB panitia sudah berpakaian adat Simalungun dikepala ( laki-laki memakai gotong dan wanita memakai bulang ) serta memakai selendang yang disebut suri-suri. Ah…mantap sekali penampilan kali ini. Prosesi dimulai dari rumah salah satu jemaat (Klg St. Rajoki Purba) dipimpin oleh Sekjen GKPS, diikuti pimpinan majelis, dan panitia. Yang juga luar biasa adalah beberapa warga beragama bukan Kristen ikut prosesi. Lagu berirama Simalungun sangat enak untuk menari, dan prosesi pun disambut dengan kelompok penari dari para ibu dan dipagari oleh anak sekolah minggu dengan Gerakan khas Simalungun gaya anak-anak. Anak saya yang 4 tahun (Ganesta Diego) “mangondok” yaitu gerakan menekuk lutut hingga membungkukkan seluruh badannya dan pinggangnya kebelakang..tulus sekali tarian itu nak…dan para pemusik itu tidak ada lelah walaupun terlambat terus tidur pada hari-hari belakangan ini. Kebaktian berjalan dengan riang dan kadang–kadang sangat hening, tetapi langkah-langkah panitia ada juga sesekali. Sejarah Gereja pun dibacakan, dan perjuangan untuk beribadah ditempat yang layakpun ternyata susah juga di Negeri ini, dari dulu sekarang dan mungkin sampai selamanya. Hanya kerinduan-kerinduan memuji Tuhan bersama-sama yang pasti memerlukan gedung , yang membuat anggota jemaat pertama itu ( yang dimotori Klg Juniansen Sipayung ) terus berjuang dengan sabar dan sabar. Karena perjuangan lokasi saja, sesungguhnya membuat parang panjang dari orang yang menganggap lahan itu bukan untuk GKPS hampir ikut ambil bagian. Tapi itu tinggal kenangan manis dalam sejarah Gereja ini. Pada hari H itu Semua anggota jemaat dan undangan yang hadir naik keatas podium bergiliran, termasuk saudara-saudara yang bukan bergereja di GKPS Simalingkar, bahkan undangan yang bukan beragama Kristen itu pun naik ke Podium. Semua warga mendapat satu kain adat Simalungun diatas podium, dan semua memberikan partisipasi memberi sejumlah uang untuk membangun gereja ini. Lagu-lagu mengiringi pemberian kain Simalungun itu sungguh ditata dengan sempurna yang di pandu oleh seorang sarjana seni warga GKPS Simalingkar (John Maren Girsang). Lucky draw secara selang-seling diberikan, dan senang sekali yang mendapat minuman ringan, kipas angin hingga minicompo. Hingga sekitar pukul 16.00, telah terkumpul uang 152 ( seratus limapuluh dua ) juta rupiah. Acara terus berlangsung dengan nyanyian-nyanyian dan tarian, dan pukul 17.00 acara ditutup dengan Doa. Pada malam hari bendahara masih memvalidasi jumlah uang yang terkumpul, dan sekitar pukul 23.00 WIB, jumlah uang yang terkumpul 160 (seratus enampuluh ) juta rupiah. Hanya karena hati orang bergembira, terbuka dan tulus, sehingga semua jemaat memberi melebihi apa yang diperkirakan sebelumnya….karena jalanKu bukanlah jalanmu dan pikiranKu bukanlah pikiranmu, keputusan Tuhan tidak pernah terpikirkan. Ya Tuhan..sudah Engkau izinkan kami bersekutu di Gereja ini, Engkau izinkan kami kumpulkan uang ini lebih dari yang kami khawatirkan, dan izinkanlah kami gunakan ini lebih baiki dari apa yang kami persiapkan sebelumnya…Amin.

Minggu, 31 Mei 2009

Ternyata Bisa

Permintaan dari customer itu sudah lama…persetujuan pun langsung kami berikan…tim sudah menyatakan siap melaksanakan, meskipun budget kurang mendukung. Entah mengapa naluri saya merasa kurang aman dengan kegiatan ini ; merasa budgetnya terlalu kecil, peserta tidak sebanding dengan tim, peralatan tidak mendukung untuk jumlah peserta sebanyak itu. Dua hari sebelum hari out bound itu..kami merencanakan rapat tim instruktur dan asisten, dan ternyata apa yang tidak diharapkan terjadi ; beberapa instruktur menyatakan tidak bisa ikut, dan jadilah hanya tiga instruktur dan dua asisten untuk 156 peserta out bound (OB). Pikiran saya menjadi sangat kacau..kacau sekacau-kacaunya. Ini belum pernah terjadi…bagaimana bisa 1 instruktur bakal mengelola 50 peserta. Namun persetujuan sudah ada dengan cutomer, yang adalah mahasiswa semester II salah satu STIKes. Langkah pertama, kami bertiga meyakinkan diri bahwa ini bisa kita kelola. Untungnya kami bertiga begitu yakin bahwa kami bisa mengelola ini, maka setelah pertemuan ini tidak ada lagi keraguan untuk mengendalikan situasi. Masalah muncul kembali pada saat mempersiapkan rute. Ternyata pengalaman merupakan guru terbaik, dengan adanya banyak pengalaman di OB membuat kami bisa memodifikasi rute dan siklus, sehingga kelas tetap terbagi menjadi kelompok kecil. Berangkat dengan mobil Panther Hi-Sporty, dengan isi dibelakang penuh peralatan..hingga duduk bersempitan, kepala paralon ada diatas kepala..dan asisten kami suka mabuk darat, padahal jalannya berkelok-kelok menuju daerah taman dewi di Sibolangit. Schedule yang dipersiapkan mulai pukul 19.30 hingga pukul 22.00 pada hari pertama dan pukul 06.00-12.30 pada hari ke dua. Pada hari pertama itu kami sudah sampai di lokasi pukul 16.00, setelah berdiskusi dengan penanggungjawab kegiatan dari STIKes, kamipun mensurvei lapangan, dilanjutkan dengan mempersiapkan peralatan sesuai dengan kondisi lapangan. Pukul 18.30, nasi bungkus untuk makan malam datang, kami makan tidak lagi 32 x kunyak, mungkin kadang-kadang cuma 2 kali sudah ditelan. Pukul 19.20, kami sudah siap untuk pembukaan, para peserta sudah duduk dibawah tenda, sound sistem sudah dipasang lengkap dengan keyboard. Setelah menunggu cukup lama..peserta juga sebagian masih dikamar..para dosen sibuk memastikan kehadiran peserta, rasa khwatir saya datang lagi dan lebih hebat. Melihat jumlah 156 peserta, dengan 3 instruktur, rasanya kami akan menghilang ditengah mereka, suara kami akan hilang dengan suara mereka, 2 bola mata kami tidak akan bisa membaca setiap perubahan raut wajah mereka. Lha..dosennya nya aja kesulitan mengumpulkan mereka..bagaimana lagi dengan sesi OB. Pengalaman belum pernah gagal sbg instruktur OB lah satu-satunya pendorong..acara belum bisa dimulai, karena para petinggi yang harus hadir di pembukaan masih belum tiba dilokasi…tunggu dan tunggu..jarum jam jalan terus, dan kami mengisi acara seadanya sambil menunggu para petinggi itu, karena acara OB tidak bisa kami mulai, takut stlh dimulai, petingginya datang, acara terputus, sekuensnya terganggu. Acara kami isi..semacam focusing, supaya mereka pikiran meraka terpusat kepada OB, dan melirik terus kearah gerbang..apakah ada sorot lampu mobil sebagai pertanda petinggi itu akan datang. Lelah sekali mengelola acara seperti ini dan ini baru pertama kali dalam acara OB, biasanya petinggi sampai dilokasi bersama peserta, atau acara tetap dmulai sesuai schedule walau tanpa petinggi. Ini kan acaranya capacity building, bagaimana bisa kalau para petinggi tidak memberi model ?. Acara pembukaan dimulai hampir jam 09.00, dengan kata-kata sambutan, perkenalan tim isntruktur, lalu acara key board, dengan maksud menghibur para petinggi itu. Hati saya mulai kesal..ini tidak sesuai lagi..harusnya petinggi itu terhibur melihat kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan sesuai agenda OB dan nilai apa yang ditanamkan dan ditumbuhkembangkan dikampus nanti. Malah yang terjadi, begitu acara keyboard yang mirip pesta kawin itu selesai, para petinggi pamit, dan kamipun dengan terpaksa menyalami mereka dengan senyum paksa. Pelajaran pertama : harusnya para petinggi menunjukkan kesabaran, dan ingin tahu apa yang akan dilakukan bawahannya atau bimbingannya. Tim instrukur memulai acara ice breaking, bagi kelompok dan penugasan untuk membuat identitas kelompok, yang biasanya ini dikerjakan sekitar 90 menit bila semua anggota kelompok aktif. Pukul 22.30 sesi ini kami tutup agar peserta bisa menyelesaikan tuga identitas kelompok : membuat nama kelompok, logo, makna logo, yel-yel, gerak dan lagu dan merangkai puisi berdasarkan 7 benda alam, 7 warna alam dan 7 suara alam. Kami berharap semua mereka akan aktif mengerjakan ini karena besoknya akan dikompetisikan. Selanjutnya kami tim instruktur ( TIM ), memasang perlengkapan, tanda-tanda rute sepanjang hampir seluruh arena, naik turun jalan berbukit, jembatan kecil, rumput, pohon-pohon besar, tidak ada penerangan disana, hanya menggunakan HP, dan sayup-sayup terdengar musik dangdut, dari arena pembukaan tadi, tim khawatir ; jangan-jangan peserta malah berpesta pora, bukannya ber OB. Kegiatan mempersiapkan rute dan alat-alat ini selesai pukul 00.30. dan peserta masih bernyanyi-nyanyi hingga beberapa album tak karu-karuan, juga para dosennya. Padahal pukul 06.00 besok pagi mereka sdh hrs siap dilapangan untuk Poco-Poco dan Sajojo, senam yang indah bila seragam itu. Tim segera tidur, dan alarm 05.00 di on kan. Pukul 06.00 Tim sudah siap dilapangan, dan yang dikhawatirkan benar, hingga pukul 06.30 peserta belum lengkap, dan Tim tidak bersedia memulai acara dengan keadaan seperti itu, walaupun anggota kelompok cuma kurang 1. Pemutar music pun bermasalah, dimana tidak ada sumber listrik di lapangan senam itu, dengan berbagai upaya senam baru bisa dimulai pukul 06.45, waktu 45 menit terbuang tidak jelas peruntukannya, dan ini satu hal yang tidak boleh terjadi dalam OB. Pelajaran ke 2 : Kegagalan kelompok bisa terjadi karena hanya 1 orang, jangan buat dirimu jadi pecundang. Gara-gara kaaauw…45 menit waktu 150 orang terbuang percuma…Pukul 07.00 sesuai jadwal, waktunya personal hygene dan serapan pagi hingga pukul 08.00. Makan nasi bungkus + kopi miks cukuplah untuk energi hingga makan siang. Pukul 08.00 kompetensi identitas kelompok dimulai…dan andai waktu tadi malam dimaksimalkan untuk mempersiapkan ini, mungkin hasilnya akan jauuuuh lebih baik. Pelajaran ke 3 : kita akan menjadi orang biasa-biasa saja bila tidak bekerja keras, dan kalau kita hanya menjadi orang yang biasa-biasa aja, mungkin kita hanya dilirik orang, untuk terpilih….paling karena kebetulan atau karena tidak ada orang lain lagi. Kelompok terbaik dalam acara ini mendapat penghargaan dengan satu bendera kecil pada tiang logo kelompok. Pelajaran ke 4 : Jadilah terbaik….suatu saat penghargaan akan datang juga. Acara dilanjutkan dengan membentuk lingkaran besar 156 orang sambil berpegangan tangan, dengan perintah angin bertiup…kekiri, kekanan.. kedepan..kebelakang..dan bila berpegangan erat dan saling menopang tidak akan terjatuh…tapi membuat lingkaran saja pun sudah susah…perintah tidak dicerna dgn jelas…ya barisan tidak stabil. Dilanjutkan dengan kelinci dan pemburu, yang memerlukan kecepatan untuk menyelamatkan diri dan segera selamatkan orang lain bila dibutuhkan. Tapi karena perintah tak dicerna dengan baik, sebagian kelici bisa saja tertembak pemburu atau mati tenggelam atau tim meninggal dalam kebakaran. Pelajaran ke 5 : dengarkan, rasakan, apa yang dibutuhkan orang lain, hidup saling menopang, saling membutuhkan, kita akan bertahan lebih lama, hidup lebih girang, KITA BUTUH ORANG LAIN MENOPANG KITA. Rute 1 diisi dengan lembar bola dan telur, ranjau darat dan benang kusut. Kesigapan dalam menerima hal yang sulit, membuat beberapa peserta bisa menjaga telur tidak jatuh dan pecah,walaupun ada yang tidak siap dengan hal sederhana, dimana bola plastic besar pun tidak bisa dijaga tidak jatuh. Pelajaran ke 6 : hidup berisi hal-hal sederhana dan mudah, tetapi juga ada hgal-hal sulit dengan tingkat kegagalan tinggi,perlu kesiapan dan kesigapan untuk itu. Ranjau darat yang sederhana dan dengan mudah diselesaikan bila kita mengulangi hal yang baik dan menghindarkan hal yang tidak baik. Satu anggota lamban dalam melangkah…dan mengulangi kesalahan teman, akan membuat ledakan mematikan anggota dan kelompok. Pelajaran ke 7 : Perhatikan orang lain yang berbuat baik…lalu ikuti, jangan perbuat kesalahan yang sama, karena itu hanya dilakukan oleh KELEDAI, dan manusia bukan keledai, hewan kepala besar tapi otaknya kecil. Benang kusut, membuat peserta hampir frustasi, lelah dan putus asa, tapi dengan bimbingan dan contoh kecil peserta bisa menyelesaikan bahkan dengan waktu tersingkat. Pelajaran ke 7: Semua hal bisa dikerjakan, dan lebih mudah bila tidak putus asa dan sedikit contoh kecil. Rute ke 2 diisi dengan Visi bersama, gentong bocor dan tangga sukses. Visi bersama, dikerjakan peserta untuk besama-sama sebagai tim kelas menyelesaikan aktivitas kampus hingga menjadi sarjana, dengan melewati rintangan, hingga berhasil mengantarkan bola visi mereka kegaris finish. Ada yang cepat ada yang kurang cepat, ada juga yang bola visinya jatuh beberapa kali, karena terlalu ambisi. Pelajaran ke 8 : tim berhasil bila menyadari sebagai satu tim, tidak ada yang menonjolkan diri yang mengakibatkan tim menjadi gagal, satu orang terlalu cepat, akan membuat bola tidak stabil dan jatuh. Peserta yang cepat mencapai garis finish menggunakan lebih sedikit sumberdaya utuk menyelesaikan pendidikan. Pelajaran ke 8 : diamananpun……tetap kita sebagai bagian dari tim; keluarga, kerja, sosial, dll. Konsentrasi dan menjaga tujuan tim harus dipelihara. Gentong bocor, dilakukan peserta dengan mengidentifiasi tujuan, yaitu keluarnya bola dari dalam paralon bocor setelah diisi penuh air. Tim perlu menyepakati, pengeluaran harus lebih sedikit dari pemasukan, dan setiap orang mengambil posisi sesuai dengan potensinya, kerja dibagi habis. Pelajaran ke 9 : bagi habis tugas menyebabkan tim semangat, karena semua terlibat. Kita berhasil bila TIDAK LEBIH BESAR PASAK DARI PADA TIANG, strategi harus tepat, siapa menutup lobang, siapa menimba, siapa mengantar, siapa menuang, bagaimana sistem pengkaderan ( bergantian diposisi berbeda ). Hasil yang dicapai bukan karena kehabatantukang timba, atau tukang tutup lobang, atau leader..tapi keberhasilan tim. Tanggal sukses dimainkan peserta dengan mengantarkan salah satu temannya untuk sukses tapi dengan kawan-kawannya menanggung beban. Peserta tercepat adalah yang menyusun strategi dengan baik, mendengar arahan leader, keyakinan tinggi, tidak mudah lelah, semangat bersaing, dan tidak merasa terbeban. Pelajaran ke 10 : jalan menuju sukses kita, menjadi beban bagi orang lain, orang lain yang mendapat beban tidak merasa terbeban, karena merasa berada dalam satu tim. Setidaknya 10 nilai dapat dari pelajaran ini, namun tidak ada yang bisa membuka tengkorak kepala kita dan mengatur-atur sinya sehingga sifat-sifat asli yang keluar pada waktu out bound, dapat Berubah dengan 10 nilai ini. Hanya diri kita sendiri yang bisa melakukannya….ingatlah kita ini selalu dalam tim…..tim…dan tim senantiasa menginginkan satu tujuan, bila tidak itu seperti kita melakukan gol bunuh diri…dan setelah bertanding, fans akan menembak kepala kita.

Kegembiraan Pada Anak

Sebagian mereka datang dengan wajah memancar, sebagian malah kegirangan tertawa – tawa, ada juga yang tanpa ekspresi dingin. Tidak pasti apa yang disampaikan orangtua mereka waktu mereka berangkat dari rumah. Juga tidak pasti apa yang ada dipikiran anak-anak ini waktu mereka berangkat dari rumah dengan ransel yang hampir sama dengan ukuran badannya. Didalamnya ada perlengkapan sehari-hari, telur dadar dengan sambal, beras 1 muk, popmie 1 cup, dan lupa jajanan yang sebenarnya tidak dianjurkan dibawa. Tepat pukul 4 sore itu semua anak-anak sudah berkumpul di GKPS Simalingkar Medan, mereka akan mengikuti camp sekolah Minggu dari Sabtu Pukul 16.00 – Minggu pukul 09.00 Wib. Mati listrik setelah acara baru dimulai tidak mengurangi kegembiraan anak-anak, panitia saja yang sedikit panik. Mereka sibuk keluar masuk tenda masing-masing, hingga teras dan alas tendanya menjadi sedikit kotor. Keingintahuan mereka akan bagaimana rasanya tidur di tenda beralasakan tanah, tanpa lampu, tanpa bantal, tanpa guling, tanpa selimut, tanpa kipas angin, tanpa AC, tanpa TV, tanpa radio, berdesak-desakan, adalah sama dengan keingintahuan mereka terhadap hal-hal besar. Mereka menjadi bertanya bagaimana kami bisa hidup seperti ini, sedangkan diluar sana orang antri menanti bantuan makanan, anak-anak seusia kami hanya tinggal kulit dengan tulang, anak seusia kami tergeletak dijalan dan tidak mampu bangkit karena kurang gizi hebat, dan banyak lagi yang mereka pikirkan. Hingga pukul 19.00 Listrik PLN belum juga hidup, sementara akan ada pembinaan rohani menggunakan LCD. Jam makan malam pun sudah tiba, akhirnya penerangan untuk makan malam menggunakan lilin, lampu kapal, dan lampu mobil. Makan malam di tikar bersama – sama memberi pengalaman tersendiri bagi anak-anak, beberapa anak meminta tambahan nasi walaupun biasanya di rumah mereka selalu menyisakan nasi dipiringnya, semua anak makan sayur, yang sebelumnya tidak meraka lakukan dirumah, mereka semuanya mandiri setidaknya untuk makan malam ini. Kegiatan pembinaan rohani mereka pada malam itu menguatkan pendangan mereka betapa masih banyak anak-anak yang hidupnya sangat susah di tempat yang lain. Pada akhir pembinaan rohani semua anak-anak membuat janji iman berupa memberikan sebagian uang mereka untuk pembangunan gereja. Uang itu berupa uang jajan, uang pemberian keluarga dan yang lain – lain yang bisa mereka hemat dan diberikan kepada pengurus gereja. Uang ini bisa diberikan sepanjang tahun atau sesuai dengan keiningan mereka. Ini akan memberikan pengalaman kepada mereka bahwa memberi itu akan membuat kehidupan bermasysarakat lebih baik, dan kita memberi karena kita sudah lebih dulu diberi oleh Tuhan. Pengalaman-pengalaman ini mereka bawa tidur pada pukul 10.00 di tenda masing-masing. Mereka masuk tenda dengan baju-baju dan celana panjang tebal, hingga akhirnya kepanasan, dan sebagian memilih pindah kedalam gereja. Anak-anak tidak langsung tidur, mereka saling bercerita antah berantah, dan cerita-cerita ini menjadi inpirasi bagi mereka, dan bisa mengubah hidup mereka. Beberapa orang tua dengan setia menjaga mereka, sambil bermain catur, bermain kartu joker, duduk di sekitar api unggun, dan tidur di mobil di sekitar tenda. Setelah pukul 01.00 suasana menjadi senyap. Semua anak-anak sudah pulas, hingga pukulan tiang besi lapangan volley mengharuskan mereka bangun dan bersiap-siap untuk bersyukur dalam saat teduh bersama guru sekolah minggu. Pukul 09.00 semua anak-anak pulang, dan memberi ke Gereja dengan uang sendiri, pengalaman pertama hidup mereka, ya..ini pengalaman pertama. Tuhan…kami lakukan banyak hal untuk anak-anak ini…Tuhan…engkau ijinkan kami bimbing mereka, dan ijinkan mereka memahami kekuasaan, kerajaan dan kemuliaanMu ada dibumi dan disorga..Amen.

Nilai - Nilai Terpelihara

Nilai – nilai yang terpelihara

Sebenarnya yang saya harapkan itu, dan yang sudah disosialisasikan ke orangbanyak itu begini :
1. Awali dengan sosialisasi, pastikan suasana menccair. Bisa dilakukan dengan Perkenalan seluruh yang ada diruangan; khusus peserta dapat menyampaikan keunggulan-keunggulannya. Sementara orang lain menanggapi dan memnyampaikan pujiannya / tanggapannya kepada temannya tadi. Suasana dicairkan dengan memastikan setiap anggota saling membutuhkan, atau tidak ada peluang untuk memilih-milih teman. Misalnya dengan membuat kelompok-kelompok kecil yang dibagi secara mendadak, dengan memutar lagu atau apa saja.
2. Facilitator menyampaikan : bahwa setiap orang mempunyai banyak hal yang dipelihara dalam hidupnya sehari-hari, dan itu disebut dengan nilai-nilai pribadi. Tetapi tim sudah memilih 7 nilai yang biasanya dipelihara seseorang dalam hidupnya. Dan peserta diberi kesempatan memilih salah satu dari 7 nilai tersebut sebagai nilai-nilai yang paling sering dipelihara setiap hari.
3. Peserta yang nilainya sama dapat digabung menjadi kelompok; mereka menceritakan pengertian dan contoh-contoh nilai yang mereka pegang, alasannya dan pengalaman-pengalamana=nya.

Sabtu, 21 Maret 2009

Ajaib Benar

Setelah Tsunami di Aceh, baru kali ini saya mendapat kesempatan ke sana. Menginap di Hermes Palace selama 3 malam, hotel yang sangat bagus dan nyaman. Tapi itu semua hampir terlupakan setelah melihat PLTD Apung yang sebesar kapal penumpang terdampat sekitar 5 KM dari pantai. Bagaimana kekuatan air laut Tsunami mengangkat kapal yang begitu besar dan bagaimana kapal besi ini dengan pembangkit listrik besar diatasnya, melintasi pemukiman hingga mendarat di pemukiman penduduk. Pertama kali melihat, saya mengira itu adalah kapal yang terdampar kemudia diatasnya dibangun pembangkit listrik. Dengan penjelasan singkat dari kawan kami yang mobilnya kami pakai, ternyata kapal itu adalah kapal PLN yang didatangkan dari Kalimantan untuk menambah daya di Aceh. Hanya Allah yang menciptakan langit dan bumu yang bisa mengizinkan kapal besi besar itu ada didaratan, diangkut oleh air laut dengan awak kapal yang kalap diatasnya, walau ada juga yang tertidur. Kabarnya yang tidur itu selamat, tetepi yang merasakan goncanagan itu tidak selamat, sebagaian melompat ke air, sebagian terbentur, dan lain - lain. Bagaimana bisa ada orang yang teteap tertidur dengan goncangan yang pasti hebat...dan bagaimana mungkin bisa sejauh itu kapal tersebut ada didaratan...bagaimana para keluarga korban mengenang orang-orang yang mereka kasihi bila melihat kapal itu...bagaimana kapal itu bisa dikembalikan ke air..karena disitulah tempatnya yang kita rencanakan...Hanya Allah pencipta yang bisa mengatasinya...dan Museum itu...saya hampir melupakannya, dan hati kecil saya mengatakan : museum itu ada di Kapal Besi ini...dan mungkinkan dibawah kapal itu terkubur orang yang kita kasihi dan kita tidak dapat menabur bunga tepat diatas jenazahnya...karena kapal itu sangat lebar....semuanya besi...dan kita tak bisa berharap melihat besi itu lapuk oleh waktu, ya..kita akan lapuk duluan..maha besar Tuhan.

Rabu, 18 Maret 2009

Remaja adalah Kita waktu nanti

Minggu 8 Maret dan Senin 9 Maret 2009, remaja Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simalingkar menjadi semacam adrenalin yang dapat memacu tekanan darah dalam tubuh saya, dengan adanya kebaktian lapangan, malam keakraban, siap dibentuk Allah, perubahan diri yang lebih baik dan banyak sekali kenangan yang terekam dalam 2 hari itu..dan akan dijadikan adrenalin bagi kehidupan keluarga jemaat GKPS Simalingkar. Tahun keluarga yang dicanangkan Pinpinan Pusat GKPS untuk tahun 2009 ini menjadi titik masuk menjadikan remaja sebagai kekuatan keluarga saat ini dan yang akan datang. Tiga puluh orang remaja hadir, 7 orang guru sekolah minggu, Wakil pengantar jemaat (Pimpinan harian gereja ) ketua seksi sekolah minggu, 6 fasilitator termasuk penulis, Bapak Solin Sekeluarga dan beberapa orang tua ikut mendampingi, membuat remaja merasa aman meninggalkan rumah menuju tepian hulu Danau Toba, Tiga Ras yang menempuh perjalanan sekitar 5 Jam. Persiapan sudah dilakukan, termasuk persiapan untuk fasilitator, sosialisasi kepada orangtua, kelengkapan yang harus dibawa, termasuk sosialisasi waktu kebaktian minggu....bersambung

Pendidikan tiga puluh remaja itu mulai SMP - SMA, dan sudah mencakup hampir semua remaja dari keluarga GKPS Simalingkar. Mereka sangat beruntung mendapat kesempatan seperti ini, karena malam hari nya mereka bisa merasakan betapa kita perlu tekun untuk hal-hal yang disukai Allah, seperti berpuasa perasaan. Karena yang keluar dari mulut berasal dari hati / perasaan, maka puasa pada acara ini adalah puasa bicara. Seluruh peserta harus menjaga bicaranya, sehingga tidak ada keluar ucapan yang tidak disukai Tuhan...bersambung...

Ini mimpi saya

Menjadi seperti sekarang seperti mimpi saja, lahir di desa Sarangpunei, kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Besar dalam keluarga petani kecil dengan 6 saudara. Masa kecil dilewati dengan kehidupan didesa yang yang bukan seperti desa sekarang ini. Listrik di desa saya baru ada setelah saya berumur 27 tahun, sedangkan air baru ada pada saat tulisan ini mulai dibuat (umur 40 tahun). Masa balita hampir seluruhnya bersama oppung dan tua ( sebutan untuk orang tua laki-laki dan perempuan dari bapak ). Oppung saya Djaukur Saragih senantiasa ada untuk saya mulai bangun hingga tidur. Sepertinya hanya waktu tidur saya dirumah orangtua yang kebetulan bersebelahan dengan rumah oppung saya yang masih rumah panggung beratap ijuk. Pagi-pagi sebelum oppung bangun, saya sudah menunggu ditangga rumahnya atau dibawah jendela untuk bersama-sama dengannya ke kedai kopi milik oppung Jami Sinaga. Biasanya menu rutinnya adalah tehmanis, pulut dengan kelapa, goreng pisang atau kombinasinya. Setelah dari kedai, pergi kesawah bersama Tua. Disawah bersama oppung dan tua sepanjang hari adalah pelajaran besar. Memasak nasi yang malamnya padinya ditumbuk dilumpang kayu oleh tua, amboru (saudara perempuan ayah) paling bungsu, yang kami panggil Po Sinta (bou Sinta), tentu dengan saya ada disitu. Nasi dimasak dibawah gubuk panggung, yang warnanya kemerahan bila kebetulan beras merah, wanginya sangat khas. Bau nasi dari padi yang beberapa bulan waktu sebelumnya padinya masih tumbuh disawah dan tanah miring ditas sawah yang sekarang kami ada disitu. Lauk-pauk tentu lengkap setiap hari; bahan sayur lengkap disekeliling sawah, bumbunya lengkap diseliling gubuk, ikannya asli dari kolam; kadang lele, gabus, sepat, atau ikan-ikan kecil,yang semuanya dimasak rebus. Kadang dengan santan, tapi yang pasti selalu menggunakan kunyit yang agak banyak. Ikan yang kami makan biasanya hasil pancing yang dipasang sore hari sebelum kami meninggalkan sawah. Memeriksa berapa pancing pada pagi harinya adalah kegemaran saya, kadang bila ikannya agak besar atau terbelit keranting kayu, saya minta tolong oppung atau tulang (anak laki-laki dari saudara laki-lakinya tua ) namanya Kaliamsah Sinaga, yang kadang ikut juga kesawah (bolos sekolah). Hampir setiap pagi saya mendapat ikan dari pancing-pancing itu, bila kebetulan tidak ada ikan, maka tua menggunakan jaring yang kami sebut namanya durung untuk menangkap ikan-ikan kecil (silo-silo) dan juga kecebong atau siput sawah sebagai lauk ikan siang hari. Apapun ikannya, dengan bumbu yang diracik oleh tua, rasanya tetap luar biasa. Biasanya saya tidur setelah capek memeriksa pancing, memasang umpan yang biasanya cacing atau belalang, bermain sebentar diair sawah yang agak dalam. Bangun tidur bersamaan dengan masaknya semua menu makan siang: nasi yang tadi malam masih berwujud padi, sayur yang pagi tadi masih dipokoknya, bumbu yang tadi pagi masih tertanam disekitar gubuk, dan ikan yang baru tadi pagi kami ambil dari kolam atau parit disekitar sawah. Semuanya sudah tersaji dalam piring dan mangkuk yang terpisah untuk saya dan tua juga tulang kalau ia ada. Satu paket makan siang dipisahkan untuk Oppung, karena biasanya saya makan lebih awal dengan Tua, mungkin karena Tua tahu saya tidak boleh terlambat makan. Jadi jam makan saya hampir sama setiap hari, walaupun Tua dan saya tidak punya jam. Oppung sering sekali makan belakangan karena sedang diladang, disawah atau sedang di hutan belantara disekitar persawahan untuk mengambil kayubakar atau tali. Setelah makan siang, saya bermain sebentar dikolong pondok, atau diparit-parit yang airnya mengalir dari bukit-bukit, lalu tidur siang diatas pondok. Tua baru turun kesawah atau ladang bila saya suidah tertidur. Tidur diatas pondok disekeliling sawah, ladang, hutan yang masih sangat lebat, dengan kicauan burung, serangga hutan, kadang siamang, disempurnakan dengan suara gesekan daun dan ranting akibat hembusan angin, benar-benar sebuah symponi yang dashyat, karena ditata sempurna oleh Allah pencipta. Mengenang itu semua seperti sebuah mimpi yang entah dimana sekarang ini ditemukan dalam bentuk nyata. Bangun dari tidur siang, badan sangat segar, saya langsung turun kesawah yang mirip kolam ikan dan memang didalamnya banyak ikan, dan ikan itu sendiri benar-benar datang dari Allah, karena Oppung dan Tua tak pernah menyemai bibitnya. Saya memeriksa pancing yang tadi pagi dipasang cacing atau belalang dan kadang ulat untuk umpannnya. Bila tali pancingnya tegang, jantung jadi deg - degan penuh tanda tanya ikan apa gerangan, sebesar apa..dan sering kali talinya sudah terlilit diranting pohon atau batang padi, dan ini butuh bantuan Oppung atau tulang bila sedang ada. Yang paling sering terkena pancing adalah ikan lele dan gabus. Ikan gabus ukurannya bisa sangat besar, sebesar betis orang dewasa. Ikan ini cukup kuat, bisa bergerak cepat diatas lumpur seperti mobil F1 diarena balap. Bila ada ikan yang dapat, dibawa kekampung sebagai menu makan malam di rumah orangtua saya, karena pada malam saya hampir selalu tidur dirumah orangtua, sesekali dirumah oppung. Setelah makan malam, akan terdengar bunyi lumpang dan alu, karena tua dan bou paling bungsu (Sinta ) menumbuk padi untuk dimasak pada esok hari. Saya akan berjongkok disamping lumpang dan tidak tahu apa gunanya saya ada disitu, dan itu berlangsung hampir setiap malam. Suatu waktu pada saat menumbuk padi pada malam hari, kami mendengar ada suara gendang yang berasal dari sekitar kebun cengkeh tepat didepan rumah kami sekarang. Memang disitu dulu ada satu batang cengkeh yang sangat besar, lebih besar dari batang pohon cengkeh yang lain. Anehnya pada saat padi ditumbuk lebih cepat, suara itu semakin kuat, dan pada saat menumbuk padanya lebih lambat suara gendang itu juga semakin pelan dan suara itu juga hilang bila menumbuk padinya dihentikan. Waktu itu tidak ada pikiran lain selain ada mahluk halus yang berpesta disekitaran kebun cengekh itu, dan mereka terganggu karena masih ada yang ribut menjelang tengah malam dengan menumbuk padi. Kepolosan Tua waktu itu langsung saja menghentikan menumbuk padai di halaman samping belakang rumahnya itu dan pindah ke atas rumah panggung untuk membersihakan beras padi yang sudah selesai ditumbuk. Hal ini hanya terjadi satu kali karena selanjutnya kami tidak pernah lagi menumbuk pada pada malam hari. Demikianlah kebutuhan beras dipenuhi, dengan mengambil padi dari lumbung yang tidak pernah kosong dari tahun ke tahun, memisahkan padinya dari tangkainya (disebut mardogei ; memijak-mijak tangkai padi sampai bulirnya terelepas, menjemurnya dan menumbuknya hingga kulitnya terlepas. Proses menumbuk itu sendiri menghasilkan beras yang utuh dan beras yang patah-patah, bahkan ada yang menjadi butiran kecil yang disebut 'suyu'. Suyu ini mejadi menu sarapan dicampur dengan ubi kayu muda dan kelapa. Rasanya sangat lezat, apalagi dimakan pada waktu hangat. Sebenarnya menambah ubi dan kelapa kedalam suyu itu adalah untuk menambah jumlah, supaya cukup untuk dibagi. Tapi ternyata disamping itu, karbohidrat yang banyak menyebabkan orang yang mengkonsumsinya mempunyai banyak energi utnuk bekerja diladang. Nasi dari beras tumbuk itu sangatlah lezat rasanya, disamping harum dan lembut, terlebih lagi tempa nasinya adalah bakul yang dianyam sendiri oleh tua, dengan bahan baku 'boyon' yang banyak tumbuh dirawa-rawa disekita sawah. Nasi yang dimasukkan kedalam bakul ini menghasilkan harum yang alami, dan menambah selera makan. Padi itu ditanam pada tanah miring di perladangan 'paritokan' yang ditempuh sekitar 1 jam berjalan kaki dari trumah tua, melewati jalan tanah curam bertangga. Dan dibawah tanah miring itu adalah sawah yang didalamnya juga sekaligus banyak ikan besar seperti gabus dan lele; ikan kecil seperti sepat dan sili-silo (semacam ikan paret yang senang bergerombol) dan juga boyok/kecebong serta siput. Pada saat tidak mendapat ikan, menu yang paling mudah didapat adalah kecebong dan siput. Kedua menu ini dengan menggunakan bumbu disekitar gubuk (yang pasti banyak kunyitnya) lezatnya bukan main. Kalau kecebong yang dimasak, maka kecebongnya akan meyatu dengan bumbunya, tapi masih terasa semacam rasa ikannya. Tetapi kalau siput yang dimasak, ada bagian kenyal dan lembut pada setiap siputnya. Mungkin ini yang membuat seolah-olah aku merasa cukup gizi pada waktu itu, sementara kehidupan ekonomi begitu sulitnya. Demikianlah hidup berlalu, setiap hari peuh dengan kenyamanan; ada makan pagi dengan pulut atau goreng di kedai atau suyu dan ubi muda plus kelapa dirumah panggung Oppung, lalu kesawah untuk melihat pancing yang sore kemarin sudah dipasang umpannya tentu sambil bermain air, tidur siang sebelum masakan tua siap untuk makan siang, dan pulang lagi kekampung untuk tidur bersama orangtua. Dan waktu yang yang tak terlupakan itu tiba; kami beberapa cucu Tua (tidak ingat berapa orang) sedang makan pagi dengan posisi melingkar didapur rumah panggung, dengan bou Sinta pada pesta pernikahan 'Po Senda' pada hari itu. Kami semua anak-anak dan Tua makan dengan lahap, dan Po Sinta melayani kami semuanya. Tua meminta kuah kepada Po Sinta dan diberikan, dan pada saat menyuapkan nasi (memang tua terbiasa memasukkan nasi kemulutnya dengan setengah melempar) Tua tersedak dan tidak ada pertolongan berarti, sampai ia menghembuskan nafasnya tidak berapa lama. Gendang pengantin yang waktu itu sudah mulai bunyi dengan sound sitem TOA, langsung berhenti sementara, sedangkan acara pesta pernikahan dipindahkan kerumah keluarga 'Kela Salem Damanik /Kela Senda. Lalu gendang dirumah Oppung tetap saja dipalu, tetapi dengan irama duka "khas nya untuk yang meninggal". Tidak ada terasa apa-apa dalam acara-demi acara itu, kami anak-anak balita hanya bingung dengan banyaknya orang datang, bahkan saya merasa kagum dengan mereka yang mempersiapkan peti untuk Tua. Mereka mengetam papan sampai halus, lalu dibuat peti berlapis kain hitam dan benah putih sebagai ornamennya. Pada saat penguburan, saya berjalan dibarisan tengah orang ramai itu, sayang sekali saya tidak bisa melihat bagaimana peti itu diturunkan dan ditimbun untuk selamanya. Beberapa hari setelahnya baru tereasa benar bahwa Tua sudah tidak ada. Itu berarti akan banyak hal yang hilang dan ternyata benar-benar hilang. Acara menumbuk padai sudah tidak kuikuti lagi, acara kesawah sudah tidak rutin, tidak ada lagi memasak nasi dan ikan disawah, tidak ada lagi yang membanguniku untuk makan siang dan menyantap masakan yang kunyitnya banyak itu. Tak berapa lama, oppung pun muai sakit-sakitan, dan makannya pun berpindah-pindah; kadang dirumah kami, kadang dirumah "Gian Boksen". Sepanjang malam Oppung selalu batuk, hingga pagi harinya dibawah jendelanya penuh dengan dahak. Memang Oppung adalah perokok 'daun dan tembakau asli" dan sering memakan abunya. Kami juga anak-anak sering mencobanya, rasanya nggak jelas, tapi memang agak-agak gurih. Mungkin itu yang membuat Oppung ketagihan memakan abu rokok daunnya. Dan seperti biasanya setiap pagi aku setia menunggunya dibawah tangga rumah panggungnya untuk sarapan ke kedai. Oppung ini sendiri adalah orang luar biasa, sepanjang yang kutau tidak orang yang tidak suka sama Oppung ini, paling tidak, tidak ada musuhnya. Hingga pada akhir hayatnya pada usia 80 tahun, dan waktu itu saya SMA kelas 1 di SMA PAhlawan TebingTinggi (45 km dari kampung). Hanya kenangan manis yang ditinggalkan Oppung demikian juga Tua. Pada acara penguburan Oppung ini, hatiku sedih sekali, bukankah selalu ada sukacita pada saat liburan dan ada yang selalu memberi uang tatkala akan kembali ke TebingTinggi. Dan sepeninggal Oppung ini, tak berapa lama, harta warisan dibagi kepada anak-anaknya. Waktu itu Oppung Jamil Sinaga ( Tondong) dari Negeri Dolok memberikan nasehat kepada anak-anak Oppung, terutama kepada Bapak dan Gian Boksen. Oppung itu berkata : "walaupun banyak buah durian itu nanti, kami tidak akan minta, tapi kalau ingin kalian kami cicipi rasanya, ya terima kasih / agepe bahat holi buah ni durian ai, lang ipindo hanami, tapi anggo sihol nasiam idai hanmi, tarimakasih". Memang Oppung sangat bijaksana, mungkin karena pensiunan kepala sekolah. Ternyata sekarang apa yang diucapkannya dulu masih relevan, bahwa harta warisan haruslah menjadi perekat persaudaraaan yang secara alami semakin renggang dengan bertambahnya anggota keluarga. Dan harta warisan ini ternyata tidak boleh dianggap hak milik, dan sudah seharusnya bila hasilnya selalu diberi kepada Tulang (saudara laki-laki ibu) untuk sekedar mengingatkan kita bahwa harta itu adalah harta orang tua kita dan Tulang sebagai saksi dalam pembagian waktu itu. Kalau Oppung dan Tua hidup sekarang, betapa senangnya dia mendengar cerita-cerita perjalan hidupku, dalam suka dan duka. Ingat 'paritokan' tempat ku ditempa dan sekarang tulisan ini diselesaikan di Timor Leste, pada saat menjadi konsultan di UNICEF; betul-betul seperti mimpi. Dan entah bagaimana caranya menunjukkan 'paritokan kepada anak-anak ku Fika, Cici dan Ganesta, kita lihat nanti.